Nasabah Asuransi Jiwa Turun Jadi 58,75 Juta Orang

    Husen Miftahudin - 25 September 2020 20:47 WIB
    Nasabah Asuransi Jiwa Turun Jadi 58,75 Juta Orang
    Ilustrasi - - Foto: Medcom
    Jakarta: Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) mencatat jumlah masyarakat yang terproteksi (tertanggung) asuransi jiwa sampai akhir semester I-2020 sebanyak 58,75 juta orang. Jumlah tersebut mengalami penurunan sebesar 1,4 persen dibandingkan periode sama tahun lalu yang mencapai sebanyak 59,59 juta orang.

    "Jumlah total tertanggung asuransi jiwa mengalami sedikit penurunan sebesar 1,4 persen, dari 59,59 juta orang di tahun lalu menjadi 58,75 juta orang Indonesia yang memiliki proteksi asuransi jiwa pada semester I-2020 ini," kata Ketua Dewan Pengurus AAJI Budi Tampubolon dalam paparan kinerja industri asuransi jiwa semester I-2020 secara virtual, Jumat, 25 September 2020.

    Jumlah polis juga mengalami penurunan di enam bulan pertama tahun ini. Total polisnya tersisa sebanyak 16,19 juta polis atau turun 8,1 persen dibandingkan dengan semester I-2019 yang mencapai sebanyak 17,61 juta polis.

    "Penurunan jumlah polis ini paling banyaknya terjadi di polis asuransi kumpulan, sejalan dengan tekanan ekonomi yang dialami banyak negara termasuk Indonesia sehingga beberapa perusahaan mengalami tekanan ekonomi," paparnya.

    Namun demikian, AAJI siap mendorong pertumbuhan industri asuransi jiwa, utamanya terkait dengan peningkatan inklusi keuangan. Edukasi ini harus terus dilakukan agar masyarakat dapat memahami manajemen keuangan demi ketahanan keuangan keluarga.

    "Dengan begitu akan tercipta adanya peningkatan kesadaran di tengah masyarakat akan pentingnya asuransi dalam memberikan perlindungan dan manajemen keuangan, terutama di saat yang sulit," harap Budi.

    Di sisi lain, AAJI juga memiliki sejumlah langkah strategis untuk mendorong pertumbuhan industri asuransi jiwa di Indonesia. Pertama, meminta pengesahan kebijakan tata cara penjualan Produk Asuransi yang Dikaitkan dengan Investasi (PAYDI) secara digital menjadi permanen.

    Kedua, mendukung penerapan regulasi yang mendorong inovasi dan digitalisasi dengan menerapkan prinsip kehati-hatian. Ketiga, mengingatkan dan meminta dukungan para pelaku untuk percepatan pembentukan Lembaga Penjamin Pemegang Polis (LPPP).

    "Terakhir mendorong inklusi dan literasi keuangan, baik secara digital maupun nondigital. Strategi ini sifatnya kolaboratif, berorientasi kepada nasabah, dan terus menerapkan prinsip kehati-hatian," tutup Budi.  


    (Des)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id