Arus Modal Masuk Capai USD1,25 Miliar

    Husen Miftahudin - 19 Agustus 2020 18:29 WIB
    Arus Modal Masuk Capai USD1,25 Miliar
    Ilustrasi investasi portofolio - - Foto: dok AFP
    Jakarta: Bank Indonesia (BI) menyampaikan investasi portofolio tercatat net inflows (arus modal masuk bersih) sebesar USD1,25 miliar. Meskipun demikian, bank sentral masih mewaspadai kondisi ketidakpastian pasar keuangan global yang masih tinggi.

    "Aliran masuk modal asing ke pasar keuangan domestik sejalan dengan besarnya likuiditas global, tingginya daya tarik aset keuangan domestik, dan terjaganya keyakinan investor terhadap prospek perekonomian domestik," kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam telekonferensi hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode Agustus 2020 di Jakarta, Rabu, 19 Agustus 2020.

    Perry menerangkan perekonomian global mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan setelah mengalami tekanan berat pada kuartal II-2020 sejalan dampak pandemi covid-19. Pertumbuhan ekonomi kuartal II-2020 di banyak negara maju dan berkembang mengalami kontraksi tajam akibat pembatasan mobilitas dalam rangka memitigasi penyebaran covid-19.

    Indikasi perbaikan ekonomi mulai terlihat di beberapa negara, khususnya di Tiongkok yang didorong berkurangnya dampak penyebaran covid-19 dan stimulus kebijakan fiskal yang besar.

    "Sementara di pasar keuangan global, kekhawatiran terhadap terjadinya gelombang kedua pandemi covid-19, prospek pemulihan ekonomi global, dan kenaikan tensi geopolitik Amerika Serikat (AS)-Tiongkok menyebabkan masih tingginya ketidakpastian," ungkapnya.

    Kondisi ini kemudian menahan aliran modal ke negara berkembang dan memberikan tekanan kepada nilai tukar negara berkembang, termasuk Indonesia. Perekonomian global pada paruh kedua 2020 diprakirakan membaik, meskipun belum kembali ke level sebelum covid-19 sejalan dengan penerapan protokol kesehatan di era kenormalan baru.

    Sejumlah indikator ekonomi dini mengindikasikan arah pemulihan ekonomi global itu, seperti meningkatnya mobilitas masyarakat global, membaiknya keyakinan konsumen dan bisnis di banyak negara, serta naiknya PMI Manufaktur di AS, Eropa, dan Tiongkok.

    "Kecepatan pemulihan ekonomi global ke depan dipengaruhi perkembangan covid-19, mobilitas ekonomi merespons pandemi, besaran dan kecepatan stimulus kebijakan. Terutama stimulus fiskal, kondisi sektor keuangan dan korporasi, serta struktur perekonomian suatu negara," ucap Perry.


    (Des)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id