comscore

Ekonomi Membaik, Performa Industri Perbankan Ikut 'Mentereng'

Husen Miftahudin - 12 Juni 2022 12:00 WIB
Ekonomi Membaik, Performa Industri Perbankan Ikut Mentereng
Ilustrasi Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) - - Foto: MI/ Susanto
Jakarta: Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan, seiring dengan membaiknya kondisi perekonomian, industri perbankan pun terus menunjukkan performa yang sangat meyakinkan.
 
"Hal ini didukung oleh permodalan yang solid dan likuiditas yang ample. Per April 2022, Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh sebesar 10,11 persen (yoy) dan kredit tumbuh sebesar 9,10 persen (yoy)," ujar Purbaya dikutip dari keterangan resminya, Minggu, 12 Juni 2022.
 
Permodalan perbankan selama pandemi hingga saat ini juga masih solid dengan rasio CAR per April 2022 mencapai 24,32 persen. Gross NPL juga terus menunjukkan perbaikan dari kondisi di masa pandemi yang sempat mengalami kenaikan di atas tiga persen. Per April 2022, gross NPL berada di level 3,00 persen.
 
"Kondisi fundamental perbankan yang kuat tersebut tidak lepas dari sinergi di dalam KSSK (Komite Stabilitas Sistem Keuangan) dalam menciptakan bauran kebijakan yang menjaga industri perbankan tetap stabil," tambahnya.
 
Tren penurunan suku bunga
 
Jika melihat 15 bulan terakhir sejak Februari 2021 hingga Mei 2022, seiring dengan kebijakan penurunan tingkat bunga penjaminan, suku bunga deposito satu bulan dan tiga bulan terpantau masih mengalami penurunan. Meskipun penurunannya semakin melambat.
 
Menurut Purbaya, hal tersebut turut berkontribusi dalam penurunan cost of fund perbankan, sehingga mendukung penurunan suku bunga kredit. Tren penurunan tingkat bunga penjaminan ini juga sejalan dengan tren penurunan suku bunga acuan bank sentral.
 
"Dalam kebijakannya, LPS terus bersinergi dengan bank sentral selaku otoritas kebijakan moneter untuk mendukung pemulihan ekonomi nasional. Perkembangan likuiditas yang tetap longgar memberikan ruang yang cukup bagi perbankan untuk mengelola biaya dana atau suku bunga simpanan di level yang rendah," jelasnya.
 
Jika dibandingkan dengan beberapa negara Asia Tenggara, suku bunga kredit di Indonesia masih merupakan yang tertinggi. "Hal ini mengindikasikan adanya ruang untuk perbaikan struktur perbankan di Indonesia agar dapat beroperasi dengan lebih efisien," tutup dia.

(HUS)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id