Simak Pilihan Investasi bagi Investor Awam saat Resesi

    Annisa ayu artanti - 01 Oktober 2020 12:37 WIB
    Simak Pilihan Investasi bagi Investor Awam saat Resesi
    Investasi. Foto : Medcom.id.
    Jakarta: Kondisi pasar masih bergerak fluktuasi akhir-akhir ini seiring dengan ancaman resesi yang kian mendekat. Pemerintah memperkirakan laju pertumbuhan ekonomi selama 2020 dalam kisaran minus 1,7 persen hingga minus 0,6 persen.

    Pemerintah juga memproyeksikan pertumbuhan selama triwulan III-2020 dalam kisaran minus 2,9 persen hingga minus 1,1 persen. Mengingat laju pertumbuhan triwulanan telah lebih dari dua kali berturut-turut minus, Indonesia dipastikan terjerembab dalam resesi. Lalu, apa yang seharusnya dilakukan investor?

    Kepala Makroekonomi dan Direktur Strategi Investasi PT Bahana TCW Investment Management Budi Hikmat mengatakan bagi investor awam yang tidak tahan volatilitas, ia menyarankan untuk tetap bersikap defensif dengan berinvestasi pada reksadana pasar uang dan Surat Berharga Negara (SBN).

    Sementara bagi investor yang ahli, Budi merekomendasikan untuk mencadangkan cash untuk sewaktu-waktu digunakan selektif memilih saham yang valuasinya murah. Berbeda dengan sejumlah ekonom yang memproyeksikan pemulihan ekonomi mengikuti pola huruf U, Z, L atau W, Budi meyakini berpola huruf K.

    "Investor global meyakini profil dunia pasca pandemi covid berubah drastis. Hal ini terlihat pada saham sektor teknologi informasi dan digital services seperti Apple, Amazon, Microsoft, Nvidia, PayPal dan Netflix meroket sebagai pemenang. Sementara saham perminyakan Exxon Oil, keuangan JP Morgan Chase dan Wells Fargo serta penerbangan Boeing terjerembab sebagai pecundang. Perbedaan kinerja tajam ini mirip seperti huruf K. Hal yang sama bisa terjadi di Indonesia dengan sejumlah keunikan," jelas Budi dalam keterangan tertulis, Kamis, 1 Oktober 2020.
     
     


    Ia menuturkan saham telekomunikasi nasional ternyata baru dianggap kuat pada digital backbone belum digital services. Ketika terjadi PSBB lanjutan, lini bisnis utama yang masih ditopang percakapan suara dan SMS mengalami penurunan.

    Sementara untuk saham sektor konsumsi bisa diuntungkan oleh percepatan pencairan dana bansos. Saham perbankan diuntungkan setelah mereka menekan bunga deposito dan menempatkan kelebihan likuiditas yang tidak dapat disalurkan sebagai kredit dalam SBN sehingga kepemilikan mereka melebihi investor asing. Sementara prospek saham CPO ditopang bila perekonomian Tiongkok terus menunjukkan penguatan.

    Dengan kondisi yang ada, ia menuturkan, sebaiknya investor mencermati tiga indikator dalam mengambil langkah investasi.

    Pertama, pertumbuhan M1 (uang kartal plus giral) yang mencerminkan daya beli terkait dengan percepatan realisasi stimulus. Kedua, apakah investor asing kembali masuk kedalam SBN. Ketiga apakah terlihat indikasi penyaluran kredit.

    "Indikator pertama terus membaik yang ditopang oleh percepatan penyaluran dana bantuan sosial. Sementara indikator kedua naik secara gradual yang menghalangi penguatan rupiah. Sayangnya, indikator ketiga masih menunjukkan perlambatan. Padahal indikator ini yang paling penting untuk memacu pertumbuhan ekonomi dan menopang cuan saham," tuturnya.
     
    Budi berharap pemerintah terus memacu realisasi stimulus pos dukungan kesehatan, insentif usaha UMKM, dan penjaminan kredit hingga akhir tahun. Geliat ekonomi di klaster bawah dan kondisi masyarakat yang sehat akan membantu pemulihan ekonomi nasional.


    (SAW)
    • Halaman :
    • 1
    • 2
    Read All

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id