Rupiah Pagi Dibuka Melemah ke Rp14.522/USD

    Angga Bratadharma - 08 April 2021 09:40 WIB
    Rupiah Pagi Dibuka Melemah ke Rp14.522/USD
    Ilustrasi. FOTO: MI/SUSANTO



    Jakarta: Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan Kamis pagi terpantau melemah ketimbang hari sebelumnya yang berada di posisi Rp14.505 per USD. Mata uang Paman Sam kian perkasa usai mendapat katalis positif berupa pemulihan ekonomi Amerika Serikat (AS) kian melesat sejalan dengan upaya vaksinasi covid-19.

    Mengutip Bloomberg, Kamis, 8 April 2021, nilai tukar rupiah pada perdagangan pagi dibuka tertekan ke posisi Rp14.522 per USD. Pagi ini nilai tukar rupiah bergerak di kisaran Rp14.510 hingga Rp14.522 per USD. Sedangkan menurut Yahoo Finance, nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.366 per USD.






    Sementara itu, nilai tukar dolar AS naik tipis terhadap sejumlah mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Rabu waktu setempat (Kamis WIB). Risalah pertemuan Federal Reserve Maret menunjukkan bank sentral AS berkomitmen memperpanjang dukungan kebijakan moneter sampai kebangkitan kembali ekonomi di Amerika Serikat lebih aman.

    Bahkan ketika ekonomi AS mulai menguat tahun ini, para pejabat Federal Reserve tetap berhati-hati tentang berlanjutnya risiko pandemi dan berkomitmen untuk memberikan dukungan kebijakan moneter sampai rebound lebih aman, menurut risalah tersebut.

    "Risalah sekali lagi menunjukkan bahwa Fed berpikir itu akan menjadi pada suatu waktu sebelum para pejabat melihat kondisi yang diperlukan dari kemajuan substansial lebih lanjut pada tujuan ganda ketenagakerjaan dan inflasi," kata Direktur Pelaksana, Analisis Mata Uang Global Action Economics Ronald Simpson.

    Indeks dolar AS, yang mengukur greenback terhadap sekeranjang enam mata uang utama saingannya, turun 0,181 persen menjadi 92,473. Indeks turun ke level 92.134 di awal sesi. Dolar telah terapresiasi tahun ini bersama dengan imbal hasil obligasi pemerintah, karena investor bertaruh AS akan pulih lebih cepat dari pandemi covid-19 daripada negara maju lainnya.

    Tetapi kenaikan indeks dolar sebesar 2,5 persen pada Maret, kenaikan bulanan terbesar sejak akhir 2016, mendorong beberapa pedagang untuk membukukan keuntungan, kata para analis. Penurunan dalam imbal hasil obligasi pemerintah setelah reli yang cepat tahun ini juga menambah tekanan pada dolar.

    Semua ini telah membuat investor bertanya-tanya apakah pelemahan dolar, yang mengirim mata uang tersebut ke level terendah tiga tahun awal tahun ini, mungkin akan berlanjut.

    "Saya tidak berpikir bahwa ini saatnya untuk mengatakan bahwa dolar berada dalam tren menurun, namun beberapa dukungan yang dilihat telah memudar sampai taraf tertentu," kata Stuart Cole, kepala strategi makro di Equiti Capital di London.
     

    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id