comscore

2 Penyebab Rupiah Loyo Sore Ini

Husen Miftahudin - 27 Oktober 2021 17:06 WIB
2 Penyebab Rupiah Loyo Sore Ini
Ilustrasi. Foto: MI/Rommy Pujianto
Jakarta: Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi menilai pergerakan nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini dihantam oleh rencana pengurangan stimulus (tapering) dan kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed).

"Kondisi tersebut mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS yang naik, dan kemudian diterjemahkan menjadi biaya peluang yang lebih tinggi untuk dolar AS," ujar Ibrahim dikutip dari siaran persnya, Selasa, 26 Oktober 2021.
Selain itu, lanjutnya, kepercayaan konsumen AS juga mengalami kenaikan yang berimplikasi pada kekhawatiran inflasi yang tinggi. Hal tersebut diimbangi oleh prospek pasar tenaga kerja yang positif, ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi meningkat.

"Investor sekarang menunggu berita dari pertemuan Bank of Japan (BOJ) dan European Central Bank (ECB), keduanya akan dirilis Kamis ini," tuturnya.

Ibrahim menjelaskan lebih lanjut bahwa Bank of Japan diperkirakan akan mempertahankan program stimulus besar-besaran dan memangkas perkiraan inflasi tahun ini. Kondisi ini menunjukkan bahwa Bank of Japan tidak berniat mengikuti bank sentral lain untuk mundur dari kebijakan pandemi.

Di sisi lain, para pelaku pasar berekspektasi bahwa ECB akan mengambil sikap dovish. Ini sebagai tindak lanjut atas ekspektasi inflasi untuk zona Euro dimana investor obligasi telah mencapai rekor tertinggi selama tujuh tahun ke belakang, yakni di atas 2,07 persen.

"Selain itu, data pengecer Inggris melaporkan bahwa kinerja penjualan lebih kuat dari perkiraan pada bulan Oktober, menegaskan prospek ke tingkat yang lebih tinggi," urainya.

Dari sisi domestik, para pelaku pasar terus mengamati langkah pemerintah dalam melaksanakan program pemulihan ekonomi yang terus berjalan. Ini akan berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi di 2021 yang diprediksi akan membaik dibandingkan tahun sebelumnya.

Salah satu yang akan difokuskan oleh pemerintah adalah melakukan pergeseran atau relokasi anggaran antarklaster dalam program pemulihan ekonomi nasional (PEN) sebesar Rp744 triliun yang akan diarahkan untuk pos kesehatan dan perlindungan sosial.

"Anggaran pos yang akan direalokasi ke dalam bidang kesehatan dan perlindungan sosial karena sampai saat ini masih dalam tahap finalisasi. Sedangkan realokasi anggaran yang ditujukan untuk bidang kesehatan dilakukan karena terdapat kebutuhan untuk membayar perawatan pasien covid-19 setelah terjadi lonjakan kasus varian delta," ungkap Ibrahim.

(DEV)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id