Berkat Situasi Pandemi yang Terkendali, Rupiah Terus Unjuk Gigi

    Husen Miftahudin - 19 Oktober 2021 12:01 WIB
    Berkat Situasi Pandemi yang Terkendali, Rupiah Terus Unjuk Gigi
    Mata uang rupiah. Foto : AFP.



    Jakarta: Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) mengatakan rupiah terus terapresiasi menjadi sekitar Rp14.200 per USD dari sekitar Rp14.300 per USD di tengah ketidakstabilan global yang terus menghantui akhir-akhir ini.

    Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky menyebutkan stabilitas nilai tukar rupiah tersebut didukung oleh situasi pandemi domestik yang lebih baik, kenaikan harga komoditas yang mendorong surplus perdagangan, serta cadangan devisa yang lebih tinggi.

     



    "Dibandingkan dengan negara-negara tetangganya, rupiah merupakan salah satu yang berkinerja terbaik sejauh ini dengan tingkat depresiasi 0,2 persen (ytd) terhadap USD," ujar Riefky dalam rilis Analisis Makroekonomi, Selasa, 19 Oktober 2021.

    Riefky menjelaskan, di tengah kondisi domestik yang mulai pulih saat ini, situasi eksternal agak bergejolak akibat krisis energi yang terjadi di Tiongkok, India, dan beberapa bagian Eropa karena pemulihan yang lambat dari sisi penawaran dibandingkan dengan sisi permintaan.

    "Akibatnya, terjadi arus keluar yang agresif dari sekitar USD9,05 miliar di pertengahan September menjadi USD6,98 miliar di pertengahan Oktober," paparnya.

    Di sisi lain, krisis energi global memicu ketakutan di kalangan investor, sehingga mereka melepas modalnya dari pasar negara berkembang termasuk Indonesia. Selain itu, berbagai masalah lain seperti masalah utang Evergrande di Tiongkok dapat menimbulkan risiko sistemik terhadap perekonomian Tiongkok.

    Kemudian masalah terkait dengan stance moneter The Fed yang dapat melakukan kebijakan tapering lebih cepat dari yang diantisipasi sebelumnya, semakin memperburuk  ketakutan dan mendorong investor untuk melarikan diri dari aset yang lebih berisiko.

    "Akibatnya, terjadi peningkatan imbal hasil obligasi pemerintah 10-tahun dan 1-tahun masing-masing menjadi 6,27 persen dan 3,91 persen pada pertengahan Oktober dari 6,17 persen dan 3,16 persen pada pertengahan September," urai Riefky.

    Di sisi lain, cadangan devisa melanjutkan tren kenaikannya dari bulan lalu dan mengalami peningkatan menjadi USD146,8 miliar, mencapai level tertinggi baru sepanjang masa. Peningkatan cadangan devisa pada September disebabkan oleh penerimaan pajak dan jasa serta penarikan utang luar negeri pemerintah.

    "Angka cadangan terakhir setara dengan pembiayaan 8,9 bulan impor atau 8,6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Dengan cadangan devisa yang lebih tinggi, BI memiliki banyak amunisi untuk memperkuat stabilitas mata uang jika imbal hasil AS naik lebih lanjut dalam beberapa bulan mendatang," tutup Riefky.


    (SAW)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id