comscore

Biaya Penanganan Cuaca Ekstrem di Indonesia Capai Rp100 Triliun/Tahun

Husen Miftahudin - 08 Desember 2021 18:21 WIB
Biaya Penanganan Cuaca Ekstrem di Indonesia Capai Rp100 Triliun/Tahun
Ilustrasi. Foto: Medcom.id
Jakarta: Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengatakan biaya yang harus dikeluarkan untuk menangani cuaca ekstrem di Indonesia mencapai lebih dari Rp100 triliun per tahun. Biaya ini diperkirakan akan terus tumbuh secara eksponensial akibat semakin ekstremnya cuaca di masa depan.

"Sehingga apabila kita tidak melakukan tambahan aksi mitigasi, maka biaya akibat cuaca ekstrem pada 2050 diperkirakan dapat mencapai 40 persen dari PDB (Produk Domestik Bruto)," ucap Destry pada acara webinar Penguatan Keuangan Hijau dalam Menjawab Tantangan dan Peluang bagi Stabilitas Sistem Keuangan secara virtual, Rabu, 8 Desember 2021.
Lebih lanjut, Destry menekankan sejalan dengan semakin kuatnya tuntutan global atas ekonomi hijau dan keuangan berkelanjutan, Indonesia memiliki potensi risiko yang besar terhadap transisi global, jika terlambat melakukan aksi mitigasi perubahan iklim global.

"Saat ini kita sudah merasakan adanya hambatan ekspor atas beberapa produk unggulan kita," paparnya.

Hambatan ekspor ini diperkirakan akan semakin besar karena adanya tambahan pajak karbon atas produk ekspor. Selain itu, akses keuangan global juga akan semakin terbatas karena adanya pajak karbon atas pembelian surat berharga atau pinjaman yang diberikan kepada entitas yang tinggi karbon.

Dalam rangka mendukung transisi menuju ekonomi dan keuangan hijau, jelasnya, Bank Indonesia telah aktif melakukan inisiatif hijau sejak 10 tahun lalu. Inisiatif ini dilakukan bank sentral dengan menggandeng sejumlah pihak, seperti Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), hingga forum keuangan hijau di luar negeri.

Pada inisiatif kebijakan, Bank Indonesia telah menerbitkan kebijakan green Loan To Value (LTV) bagi properti dan kendaraan yang berwawasan lingkungan. Sementara itu pada sisi internal, BI mencoba melakukan inisiatif seperti pengalokasian investasi berkelanjutan dalam bentuk penempatan portofolio cadangan devisa hijau.

Ke depan, Bank Indonesia akan terus melanjutkan penguatan kebijakan keuangan hijau yang salah satunya ditunjukkan untuk memitigasi risiko terhadap stabilitas sistem keuangan.

Destry membeberkan penguatan akan dilakukan melalui penguatan kebijakan makroprudensial, pendalaman pasar keuangan, pengembangan ekonomi dan keuangan inklusif, hingga transformasi kelembagaan Bank Indonesia yang keseluruhannya memperhatikan lingkungan.

"Adapun dalam penguatan dan implementasinya, kebijakan-kebijakan tersebut, Bank Indonesia akan terus bersinergi dan melakukan koordinasi yang erat dengan KSSK (Komite Stabilitas Sistem Keuangan), kementerian/lembaga, dan tentunya dengan stakeholders terkait," pungkas Destry.

(DEV)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id