Rupiah Mulai Pamer Kekuatan di Pekan Ini

    Angga Bratadharma - 01 Mei 2021 13:17 WIB
    Rupiah Mulai Pamer Kekuatan di Pekan Ini
    Ilustrasi. FOTO: MI/SUSANTO



    Jakarta: Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan di sepanjang pekan ini terpantau berfluktuatif dengan kecenderungan menguat. Mata uang Garuda mampu sedikit meredam keperkasaan mata uang Paman Sam di tengah lonjakan kasus covid-19 di hampir seluruh negara di dunia.

    Mengutip Jisdor Bank Indonesia, Sabtu, 1 Mei 2021, nilai tukar rupiah pada perdagangan di awal pekan atau tepatnya Senin, 26 April, berada di level Rp14.489 per USD. Lalu pada Selasa, 27 April, nilai tukar rupiah melemah ke Rp14.497 per USD. Kemudian pada Rabu, 28 April, nilai tukar rupiah kembali tertekan ke Rp14.510 per USD.






    Sedangkan pada Kamis, 29 April, nilai tukar rupiah menguat ke level Rp14.468 per USD. Lalu pada akhir pekan atau tepatnya Jumat, 30 April, mata uang Garuda mampu kembali menguat ke posisi Rp14.453 per USD. Sejauh ini para investor terus mencermati lonjakan kasus covid-19 di hampir seluruh negara di dunia termasuk di Indonesia.

    Sementara itu, dolar naik terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Jumat waktu setempat (Sabtu WIB). Dolar memperpanjang penguatan hari sebelumnya ditopang data positif pada pendapatan pribadi, pengeluaran serta manufaktur di Midwest AS, dengan pelaku pasar juga mengambil keuntungan dari posisi short dollar bulan ini.

    Indeks dolar yang mengukur greenback terhadap enam mata uang saingannya anjlok 2,1 persen untuk April, merupakan penurunan bulanan terbesar sejak Desember.

    Data AS minggu depan, yang mencakup data penggajian non-pertanian untuk April dan indeks utama manufaktur dan jasa-jasa AS, akan memperkuat ekspektasi pemulihan yang kuat dari pandemi oleh ekonomi terbesar di dunia itu.

    "Putaran lain dari data yang berpotensi kuat di AS dapat menambah tekanan untuk mulai membahas tapering (pengurangan pembelian aset oleh bank sentral)," kata ING dalam catatan penelitian terbarunya.

    "Dengan beberapa kemungkinan pelemahan baru dalam obligasi pemerintah sedang dalam perjalanan, dolar AS mungkin menemukan beberapa jeda terhadap imbal hasil rendah," tambahnya.

    Setelah pertemuan kebijakan Fed, Ketua Fed Jerome Powell mengakui pertumbuhan ekonomi AS, tetapi mengatakan tidak ada cukup bukti kemajuan substansial lebih lanjut menuju pemulihan untuk menjamin perubahan pada pengaturan moneter yang sangat longgar.

    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id