Vaksinasi Masih Jadi Penyelamat Rupiah

    Husen Miftahudin - 27 November 2020 17:08 WIB
    Vaksinasi Masih Jadi Penyelamat Rupiah
    Ilustrasi penguatan nilai tukar rupiah - - Foto: dok AFP
    Jakarta: Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan di akhir pekan ini mengalami penguatan tipis. Musababnya, para pelaku pasar masih menaruh rasa optimistis terhadap kerja keras pemerintah dalam mengupayakan vaksin antivirus korona.

    "Pemerintah sampai saat ini terus berusaha dan berupaya semaksimal mungkin untuk mengamankan kesepakatan pengadaan vaksin baik dari Tiongkok, Inggris, maupun Amerika Serikat," ungkap Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi dalam keterangan resminya yang diterima Medcom.id, Jumat, 27 November 2020.

    Sebagai informasi, Indonesia, Brasil, Meksiko, India, dan Rusia adalah negara-negara berkembang yang kemungkinan akan menerima vaksin paling awal. Izin penggunaan vaksin kemungkinan bisa diberikan dalam hitungan bulan.

    "Kalau memang benar Indonesia akan mendapatkan vaksin lebih awal, maka ada harapan besar ekonomi bisa pulih lebih cepat ketimbang negara-negara lain. Mengutip riset Goldman Sachs Global Investment Research, vaksinasi yang lebih cepat bisa membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai lebih dari enam persen tahun depan," tuturnya.

    Proyeksi Goldman Sachs, sebut Ibrahim, berbeda dengan prakiraan para ekonom dalam negeri yang pada 2021 Indonesia baru memasuki fase pemulihan ekonomi. Artinya, pertumbuhan ekonomi Indonesia diramal hanya berada di kisaran 3-3,5 persen di tahun depan.

    "Dampak dari pandemi covid-19 memang sangat luar biasa terhadap perekonomian. Namun di masa pemulihan, pemerintah perlu berhati-hati dalam mengeluarkan kebijakan. Karena di masa pemulihan memerlukan anggaran yang cukup besar kalau menginginkan ekonomi kembali pulih dengan cepat," jelas dia.

    Di sisi lain, Bank Indonesia masih terus berkomitmen untuk melakukan kebijakan strategi bauran ekonomi yang bertujuan untuk menstabilkan nilai tukar rupiah dengan cara menurunkan suku bunga dan melakukan intervensi di pasar valuta asing (valas), obligasi, dan Surat Utang Negara (SUN) di perdagangan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).

    "Tujuan intervensi tersebut untuk menahan keluarnya arus modal asing yang cukup besar dari pasar keuangan dalam negeri. Sudah tentu pelemahan mata uang rupiah tertahan, walaupun masih memasuki zona merah. Namun apa yang dilakukan oleh Bank Indonesia perlu mendapatkan apresiasi dari pasar," imbuh Ibrahim.

    Adapun pada penutupan perdagangan akhir pekan ini, nilai tukar rupiah terhadap USD menguat tipis. Mengutip data Bloomberg, nilai tukar rupiah ditutup menguat dibandingkan penutupan hari sebelumnya, yakni berada di posisi Rp14.090 per USD.

    Mata uang Garuda tersebut menguat tipis 10 poin atau setara 0,07 persen. Rentang gerak harian rupiah berada di level Rp14.090 per USD sampai Rp14.117 per USD.

    Menukil data Yahoo Finance, rupiah juga berada di zona hijau pada posisi Rp14.107 per USD. Rupiah menguat 17 poin atau setara 0,13 persen dari Rp14.125 per USD di penutupan perdagangan hari sebelumnya.

    Sedangkan berdasarkan data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dolar Rate (Jisdor), rupiah justru diperdagangkan di level Rp14.145 per USD atau melemah sebanyak 15 poin dari nilai tukar rupiah pada perdagangan hari sebelumnya sebesar Rp14.130 per USD.

    "Untuk perdagangan minggu depan tepatnya Senin rupiah kemungkinan dibuka fluktuatif, tetapi ditutup menguat sebesar 5-70 poin di level Rp14.090 per USD hingga Rp14.130 per USD," pungkas Ibrahim.  


    (Des)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id