Kepemilikan Modal Asing di RI Jeblok 30% Imbas Covid-19

    Husen Miftahudin - 13 Mei 2020 16:48 WIB
    Kepemilikan Modal Asing di RI Jeblok 30% Imbas Covid-19
    Ilustrasi. Foto : MI/RAMDANI.
    Jakarta: Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengakui kepemilikan modal asing di pasar keuangan domestik mengalami guncangan hebat imbas meluasnya penyebaran virus korona (covid-19). Bahkan kepemilikan modal asing di Indonesia saat ini terkikis hingga 30 persen.

    Merujuk data yang Destry paparkan, kepemilikan asing di portofolio investasi pasar keuangan domestik mencapai 39 persen pada 2019. Kondisi tersebut membawa angin segar perekonomian nasional lantaran modal asing masuk mencapai Rp224 triliun.

    "Namun gara-gara covid-19 secara bertahap asing melakukan penjualan selama Januari hingga 31 Maret. Sehingga kita lihat, inflow Rp224 triliun (pada 2019) habis semua karena kepemilikan asing drop 30 persen," ujar Destry dalam diskusi daring di Jakarta, Rabu, 13 Mei 2020.

    Awalnya, ungkap Destry, dana-dana asing mengalir cukup deras di pasar keuangan domestik pada 1 hingga 19 Januari 2020. Bila ditotal, aliran masuk modal asing (capital inflow) tersebut mencapai sebanyak Rp22,85 triliun.

    Sayangnya, kemunculan pandemi covid-19 membuat investor asing 'risih' dan menarik dananya sejak 20 Januari hingga 31 Maret 2020. Total dana asing yang keluar (capital outflow) dari pasar keuangan Indonesia pada periode tersebut mencapai sebesar Rp171,5 triliun.

    Bila dihitung secara year to date (ytd) hingga 31 Maret 2020 terjadi capital outflow sebanyak Rp148,76 triliun. Jumlah tersebut terdiri dari Sertifikat Bank Indonesia (SBI) keluar Rp3,3 triliun, Surat Berharga Negara (SBN) kabur Rp135,5 triliun, obligasi korporasi melayang Rp700 miliar, dan saham yang pulang kampung sebesar Rp9,7 triliun.

    "Ini (dana-dana asing di pasar keuangan dalam negeri) harus dijaga agar tidak keluar semua," tegasnya.

    Menurut Destry, aliran modal asing yang keluar membuat stabilitas nilai tukar rupiah terguncang. Bank sentral mencatat volatilitas mata uang Garuda sejak awal tahun hingga 24 April 2020 masih mengalami depresiasi senilai 11,9 persen.

    "Tapi mata uang semua negara juga mengalami pelemahan. Untuk rupiah, di April sempat mencapai Rp16 ribu per USD. Setelah ada kebijakan BI, sekarang rupiah menguat di kisaran Rp15 ribu per USD," ucap Destry.

    Mengutip data Bloomberg hingga pukul 15.00 WIB rupiah diperdagangkan di level Rp14.865 per USD, menguat 40 poin atau naik 0,27 persen dari posisi penutupan perdagangan di hari sebelumnya di level Rp14.905 per USD.

    Sementara mengutip data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dolar Rate (Jisdor), rupiah diperdagangkan di level Rp14.887 per USD atau mengalami penguatan sebesar 91 poin dari nilai tukar rupiah pada perdagangan hari sebelumnya sebesar Rp14.978 per USD.



    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id