Bertransaksi Aman di Masa Pandemi

    Dero Iqbal Mahendra - 18 Mei 2020 12:37 WIB
    Bertransaksi Aman di Masa Pandemi
    Foto: Grafis Medcom.id
    Jakarta: Ketergantungan masyarakat terhadap transaksi digital, khususnya ketika pandemi covid-19 saat ini, perlu diiringi kewaspadaan terhadap berbagai modus penipuan dan kejahatan dalam transaksi elektronik tersebut.

    Apalagi, kejahatan transaksi elektronik kini berubah modus, yakni jika dahulu mengincar nomor identifikasi pribadi (PIN) ATM, sekarang copet digital coba membobol rekening nasabah lewat pengalihan kode one time password (OTP).

    CEO PT Visonet Internasional (OVO) Karaniya Dharmasa­putra menyampaikan pihaknya sebagai platform pembayaran digital selalu memberikan edukasi kepada pengguna terkait keamanan dan kenyamanan dalam bertransaksi.

    "Kami mengimbau pengguna agar tak membagikan OTP dan password kepada siapa pun dan juga mengganti password secara berkala untuk pengamanan lebih lanjut," tutur Karaniya kepada Media Indonesia.

    OVO mengaku memberikan perlindungan berlapis kepa­da semua pengguna untuk mengantisipasi semua bentuk kejahatan siber. Keamanan OVO terdiri atas OTP, PIN, serta notifikasi OVO bila diakses dari perangkat elektronik berbeda. OVO pun menerapkan keamanan yang tersertifikasi secara global.

    Chief Technology Officer DANA Norman Sasono meng­ungkapkan kasus yang kerap terjadi di masyarakat, yakni kasus penipuan terkait dengan social engineering atau upaya penipuan dengan cara mencari informasi untuk mengakses akun pengguna, termasuk pengguna layanan dompet digital.

    "Interaksi dalam social engi­neering ini bisa dilakukan lewat berbagai jalur komunikasi, seperti telepon, e-mail yang menyertakan link untuk phising, direct message di media sosial, aplikasi chatting, atau tatap langsung dengan korban," jelas Norman.

    Dalam kasus ini, biasanya penipu mencoba memanfaatkan kelengahan pengguna dompet digital dan menanyakan OTP atau PIN dengan iming-iming beragam. Pengguna yang lengah dan tidak paham isu keamanan, serta kurang berhati-hati, umumnya mereka percaya memberikan data pribadi.

    "Masyarakat harus waspada dan tidak memberikan data pribadi atau finansial lainnya kepada orang lain dengan alasan apa pun," tuturnya.

    Sertifikat Digital

    Coporate Secretary Bank Mandiri Rully Setiawan mengatakan Bank Mandiri terus melakukan edukasi dan sosialisasi mengenai keamanan bertransaksi digital.

    Dia juga mengingatkan nasabah dalam melakukan transaksi tidak memberikan password dan kode OTP kepada siapa pun, termasuk petugas bank.

    Secara terpisah, pakar IT Security Gildas Deograt Lumy menilai keamanan berbasis OTP secara keamanan masih dianggap riskan.

    "Seharusnya sistem keamanan ini sudah berevolusi ke sertifikat digital autentikasi untuk online autentication. Penggunaan sertifikat digital pun lebih murah dan bagi user tidak menyulitkan, bahkan lebih simpel daripada password atau OTP," pungkasnya.

    (AHL)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id