comscore

Investor Menanti Gerak The Fed

Fetry Wuryasti - 15 Desember 2021 11:52 WIB
Investor Menanti Gerak The Fed
Ilustrasi bendera Amerika Serikat. Foto: AFP/Sean Rayford.
Jakarta: Pertemuan The Fed akan menjadi salah satu yang dinantikan pekan ini. Pelaku pasar dan investor mengharapkan The Fed akan mempercepat selesainya fase Taper Tantrum, namun juga memberikan sinyal kepastian akan kenaikan tingkat suku bunga pada 2022 untuk melawan inflasi yang tercepat sejak 1980-an.

"Berdasarkan prediksi yang memenuhi pasar, kemungkinan akan ada perhitungan median dari 18 pejabat yang memproyeksikan dua kenaikan pada tingkat suku bunga pada tahun depan," kata Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus, dilansir Mediaindonesia.com, Rabu, 15 Desember 2021.
Banyak yang mengatakan pertemuan kali ini akan menjadi pergeseran hawkish terbesar sepanjang sejarah dot plot. Hal ini ditambah dengan pernyataan Gubernur The Fed Jerome Powell yang akan mempertimbangkan untuk mempercepat Taper Tantrum beberapa bulan lebih awal dari sebelumnya pertengahan 2022.

Proyeksi terkait dengan adanya pengurangan tambahan akan bertambah menjadi USD30 miliar per bulan nanti diharapkan akan selesai pada Maret 2022. Fokus utama dari pelaku pasar dan investor adalah The Fed segera dapat melakukan penyesuaian terhadap situasi dan kondisi yang terjadi khususnya pasar tenaga kerja dan inflasi.

Setelah kenaikan dua kali pada 2022, diperkirakan masih akan ada tiga kenaikan lagi pada 2023 dan dua kali lagi pada 2024.

Baca juga: Tertinggi dalam 39 Tahun, Inflasi AS Meroket 6,8% di November 2021

"Apabila hal ini terjadi, maka akan menjadi kenaikkan tingkat suku bunga yang paling dahsyat sepanjang sejarahnya. Apabila Taper Tantrum selesai lebih awal, maka besar kemungkinan kenaikan tingkat suku bunga The Fed akan terjadi pada Maret 2022," kata Nico.

Powell terlihat tidak akan segan kali ini untuk mengambil sebuah tindakan melalui kebijakan. Apalagi setelah melihat data inflasi yang kembali naik dari 6,2 persen menjadi 6,8 persen dan tertinggi dalam kurun waktu 40 tahun terakhir.

"Otomatis, mau tidak mau The Fed harus mengejar inflasi untuk dapat mengendalikan inflasi. Meskipun memang inflasi saat ini bukan yang terburuk sejak 1070-an. Apalagi saat ini The Fed harus menghitung variabel baru bernama Omicron, meskipun The Fed sudah mengatakan terlalu dini untuk menilai dan mengukur dampak Omicron bagi perekonomian Amerika," kata Nico.

Ketidakpastian ini yang akan memengaruhi pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja sementara yang memiliki pengaruh yang lebih banyak terhadap inflasi.

Asian Development Bank (ADB) sudah memangkas proyeksi perekonomiannya untuk Emerging Market di Asia akibat kemunculan Omicron. GDP di Asia akan naik sebesar tujuh persen pada tahun ini, namun angka ini merupakan angka revisi dari sebelumnya yang berada di 7,1 persen.

(AHL)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id