Transaksi Uang Elektronik Capai Rp144 Triliun per September

    Husen Miftahudin - 25 November 2020 19:43 WIB
    Transaksi Uang Elektronik Capai Rp144 Triliun per September
    Ilustrasi transaksi elektronik atau nontunai - - Foto: Medcom
    Jakarta: Wakil Presiden (Wapres) Ma'ruf Amin mengatakan perkembangan industri teknologi keuangan di Indonesia tumbuh signifikan. Hal ini ditandai dengan semakin bervariasinya model bisnis dan solusi teknologi keuangan mencapai 23 model.

    Di antaranya adalah layanan pembayaran digital (digital payment), layanan pinjaman digital (digital lending), layanan pengumpulan urun dana yang salah satu bentuk populernya crowdfunding. Kemudian layanan asuransi berbasis teknologi (insurance technology), layanan manajemen investasi berbasis teknologi (wealthtech), serta layanan pengumpulan informasi pasar (market provisioning).

    "Berkat berbagai inovasi dan model bisnis tersebut, adopsi fintech dalam masyarakat juga berkembang pesat yang ditandai oleh beberapa indikator. Salah satunya adalah jumlah e-money," ungkap Ma'ruf dalam penutupan Indonesia Fintech Summit & Pekan Fintech Nasional 2020 yang digelar secara virtual di Jakarta, Rabu, 25 November 2020.

    Sebagai contoh, jelas Ma'ruf, jumlah e-money di Indonesia pada September 2020 tumbuh pesat hingga 68 persen dibandingkan pada periode yang sama pada 2019 dengan total jumlah transaksi mencapai Rp144 triliun.

    "Hal ini menunjukkan peningkatan yang pesat dalam pemanfaatan fintech pembayaran, padahal kita semua sedang menghadapi situasi krisis akibat pandemi covid-19," sebutnya.

    Bahkan ketika pemerintah menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) tahap pertama pada April 2020, nilai transaksi uang elektronik di Indonesia justru menunjukkan angka tertinggi senilai Rp17,55 triliun.

    "Padahal ketika itu sebagian masyarakat tinggal di rumah. Fakta ini menunjukkan bahwa fintech pembayaran mampu membantu masyarakat serta UMK dalam bertransaksi di tengah penerapan PSBB tersebut," ujar Ma'ruf.

    Selain itu, akumulasi pemberian pinjaman yang dilayani penyedia fintech lending pada September 2020 juga telah mencapai Rp128,7 triliun. Dana tersebut disalurkan kepada lebih dari 29 juta akun peminjam.

    "Hal ini juga secara tidak langsung dapat menunjukkan bahwa layanan pinjaman melalui fintech lending dapat membantu menyediakan likuiditas bagi masyarakat dan juga UMK selama pandemi covid-19," imbuhnya.


    Sementara dari sisi ketersediaan akses jasa keuangan bagi masyarakat, sejauh ini terdapat lebih dari lima juta agen fintech yang menyediakan akses pada jasa keuangan yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

    Kondisi ini semakin mendorong inklusi masyarakat  terhadap layanan keuangan. Hal ini tentu sangat berperan positif dalam mendorong perkembangan ekonomi masyarakat yang pada gilirannya turut memperkuat ekonomi nasional.

    "Atas semua perkembangan yang menggembirakan tersebut, saya ingin memberikan apresiasi kepada seluruh pelaku industri fintech nasional. Saya juga memberikan apresiasi dan penghargaan yang tinggi bagi Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang telah mampu mendorong perkembangan fintech di Tanah Air dengan sangat baik," tutup Ma'ruf. 


    (Des)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id