BI Minta Perbankan Terbuka soal Tingkat Suku Bunga

    Husen Miftahudin - 22 Februari 2021 14:34 WIB
    BI Minta Perbankan Terbuka soal Tingkat Suku Bunga
    Bank Indonesia (BI). Foto : MI/Usman Iskandar



    Jakarta: Bank Indonesia (BI) mendorong industri perbankan terbuka (transparansi) soal tingkat Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK). Dengan begitu, maka mekanisme pasar akan bekerja dengan baik.

    Asisten Gubernur, Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial BI Juda Agung mengatakan, mekanisme pasar yang bekerja dengan baik terjadi karena adanya informasi yang simetris antara bank dengan nasabah. Kemudian, informasi harga yang transparan.






    "Sehingga, orang bisa melakukan pilihan-pilihan dalam mendapatkan kredit. Dengan mekanisme itu suku bunga menjadi lebih fleksibel," ujar Juda dalam taklimat media mengenai Kebijakan LTV dan Uang Muka KKB serta Transparansi Suku Bunga secara virtual, Senin, 22 Februari 2021.

    Saat ini, sebagian besar bank tidak terbuka soal suku bunga kreditnya. Alhasil nasabah terjebak pada suku bunga kredit yang ditawarkan bank karena mengklaim memberi suku bunga yang terbaik, padahal ada bank lain yang memberikan suku bunga yang rendah.

    Artinya, transparansi suku bunga membuat persaingan (kompetitif) antarbank semakin meningkat guna merebut nasabah. Pada akhirnya kompetisi ini mendorong penurunan suku bunga perbankan yang saat ini berada di level yang tinggi.

    "Dampaknya dengan lebih transparan, maka suku bunga akan menjadi lebih fleksibel, less rigid. Sehingga, mendorong penurunan suku bunga," harap Juda.

    Adapun ketentuan SBDK tidak ada perubahan. Ketentuan SBDK berasal dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). SBDK perbankan juga ditampilkan di laman resmi OJK.

    Juda menegaskan bahwa transparansi suku bunga kredit perbankan yang didorong adalah keinginan Bank Indonesia untuk menyampaikan lebih dalam soal asesmen bank sentral terhadap perilaku perbankan kepada masyarakat. Termasuk terkait dengan SBDK, suku bunga kredit, hingga deposito.

    "Ini supaya masyarakat semakin aware. Mungkin dalam beberapa tahun ini tidak terlalu dilihat suku bunga SBDK-nya bagaimana," tuturnya.

    Sebelumnya, Gubernur BI Perry Warjiyo geram dengan lambatnya penurunan suku bunga kredit perbankan. Padahal, sepanjang 2020 bank sentral telah memangkas suku bunga acuan sebanyak 125 basis poin (bps) hingga ke level 3,75 persen.

    Menurut dia, longgarnya likuiditas dan penurunan BI 7 Days Reverse Repo Rate sebanyak 125 bps sepanjang 2020 mendorong rendahnya rata-rata suku bunga Pasar Uang Antar Bank (PUAB) overnight sebesar 3,04 persen. Suku bunga deposito satu bulan juga telah turun sebesar 181 bps ke level 4,27 persen pada Desember 2020.

    Perry menuturkan, penurunan suku bunga kredit masih cenderung terbatas, yaitu hanya sebesar 83 bps ke level 9,70 persen selama 2020. Lambatnya penurunan suku bunga kredit disebabkan oleh masih tingginya SBDK perbankan.

    "Selama tahun 2020, di tengah penurunan suku bunga kebijakan BI 7 Days Reverse Repo Rate dan deposito satu bulan, SBDK perbankan baru turun sebesar 75 bps menjadi 10,11 persen," tukasnya.

    Hal ini menyebabkan tingginya spread SBDK dengan suku bunga BI 7 Days Reverse Repo Rate dan deposito satu bulan masing-masing sebesar 6,36 persen dan 5,84 persen.

    "Bank Indonesia mengharapkan perbankan dapat mempercepat penurunan suku bunga kredit sebagai upaya bersama untuk mendorong kredit pembiayaan bagi dunia usaha dan pemulihan ekonomi nasional," kata Perry.

    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id