Upaya OJK Menjaga Ketahanan Sektor Riil dan Sektor Keuangan

    Eko Nordiansyah - 24 Juli 2020 22:38 WIB
    Upaya OJK Menjaga Ketahanan Sektor Riil dan Sektor Keuangan
    Ilustrasi OJK - - Foto: MI
    Jakarta: Peran Otoritas Jasa Keuangan (OJK) masih sangat dibutuhkan dalam menjaga sektor keuangan di tengah pandemi covid-19. Berbagai upaya penguatan sektor riil juga diharapkan mampu mendorong sektor keuangan.

    Direktur Riset CORE Piter Abdullah mengatakan UMKM menjadi sektor yang paling terdampak akibat pandemi. Karena itu, kebijakan pemerintah mulai dari restrukturisasi hingga dana stimulus lewat program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), akan menjadi obat bagi yang sektor terdampak.

    Namun Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sudah dilonggarkan tak serta merta mendorong pemulihan ekonomi. Hal ini lantaran banyak masyarakat masih melakukan isolasi mandiri.


    Sejak pandemi, terjadi defisit cash flow di sektor riil yang menyebabkan banyak lapangan usaha tutup. Tak sedikit korporasi UMKM yang tak memiliki pendapatan, namun disisi lain mereka harus tetap bayar kebutuhan dan biaya-biaya lainnya, terakhir cicilan dan bunga.

    "Pemerintah dan OJK sudah mengambil kebijakan dan keputusan sesuai dengan kapasitasnya di saat pandemi. Terutama upaya restrukturisasi yang dilakukan OJK menjadi angin segar oleh UMKM," kata dia dalam webinar 'Peran Penting OJK Dalam Menghadapi Sistem Keuangan di Tengah Gejolak Perekonomian Akibat Pandemi Covid-19' di Jakarta, Jumat, 24 Juli 2020.

    OJK, sambung Piter, sejak awal pandemi sudah cepat merespon dengan mengeluarkan kebijakan restrukturisasi kredit. Pasalnya OJK memahami risiko dengan terbatasnya ekonomi, akan memiliki dampak besar bagi sektor keuangan terutama kredit macet.

    “Itu (restrukturisasi) dalam bentuk kemudahan yang dilakukan, tapi bukan berarti OJK tak melakukan kebijakan lain, sebagai bahan kita melihat kinerja OJK di tengah covid-19 dalam menjaga perbankan di tengah covid-19, OJK mampu menjaga kondisi perbankan tetap stabil,” jelas dia.

    Diakui Piter, memang di tengah wabah covid-19, mau tak mau semua kredit anjlok karena sektor riil terbatas. Bahkan penurunan kredit terjadi di semua BUKU dan kelompok bank, namun disisi lain DPK meningkat, terutama di DPK menengah atas yang memang menjaga konsumsi.

    "Kinerja perbankan, walaupun sektor kredit turun namun secara keseluruhan tetap baik di tengah risiko ledakan NPL yang juga tinggi. Kembali ke periode lalu, jika ada yang menilai OJK tak kerja, itu hanya konflik perebutan kepentingan, jangan sampai kembali ke zaman dulu,” ungkapnya.

    Senada, Dosen dan Kepala Pusat Informasi Pengembangan Wilayah LPPM UNS Lukman Hakim menuturkan, apa yang dilakukan OJK sudah cukup mengakomodir pelaku industri di tengah pandemi. Lukman menambahkan, OJK harus menjadi mitra bank di saat krisis sekalipun.

    "Sudah jadi tugas OJK menjadi partner bank, begitu ada masalah, harus langsung reaktif membuat kebijakan untuk menyelesaikan permasalahan yang konstruktif,” kata Lukman.

    Dalam kondisi pandemi covid-19 ini, menurut Lukman, yang harus dilakukan oleh pemerintah, BI dan OJK adalah, memastikan agar ekonomi berada di bawah kendali. Salah satunya dengan menyampaikan update kondisi ekonomi dan keuangan terkini secara rutin.

    “Dengan demikian, jika ada rencana untuk membubarkan OJK, itu jadi tidak akan produktif, di saat upaya pemulihan ekonomi tengah dilakukan. Karena yang diperlukan saat pandemi ini adalah justru kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah, BI dan OJK," pungkasnya.


    (Des)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id