Asosiasi Fintech Buka Peluang Kolaborasi dengan BPR

    Husen Miftahudin - 08 September 2020 23:13 WIB
    Asosiasi Fintech Buka Peluang Kolaborasi dengan BPR
    Ilustrasi - - Foto: Medcom
    Jakarta: Ketua Umum Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) Adrian Gunadi membuka peluang kolaborasi antara fintech peer to peer lending dengan Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Peluang kerja sama ini bisa menguntungkan kedua belah pihak, baik dari sisi pengembangan teknologi maupun peningkatan nasabah.

    Adrian menjelaskan perusahaan fintech lending merupakan sebuah digital platform yang mempertemukan antara pemberi pinjaman (lenders) dengan peminjam (borrowers). Dalam industri ini, ada beberapa penyelenggara yang fokus ke pembiayaan bersifat produktif maupun konsumtif.

    "BPR ini bisa melihat kustomisasi atau kebutuhannya ada di mana. Mungkin bisa melihat segmen produk yang belum dimiliki oleh BPR tersebut dan di mana bisa berkolaborasi dengan fintech untuk mengisi kekosongan produk tersebut, ini sesuatu yang bisa di-explore," ujar Adrian dalam webinar Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dengan tema Transformasi BPR: Inovasi dan Kolaborasi, Selasa, 8 September 2020.

    Pada prinsipnya, fintech lending alias pinjaman online ini melakukan asesmen, verifikasi, scoring, administrasi, loan process, hingga dokumentasi yang semuanya dilakukan secara digital. Hal yang paling jadi perbincangan terkait dengan tanda tangan digital atau digital signature.

    "Kalau kita bicara di lembaga keuangan dan perbankan, yang namanya digital signature itu baru sesuatu yang akan diadaptasi. Sedangkan di kami, dari awal berdiri sudah menerapkan digital signature," tukasnya.

    Setelah verifikasi dan proses administrasi, fintech lending bisa menawarkan kepada pemberi pinjaman untuk memberikan kreditnya kepada calon peminjam. Dalam hal kolaborasi fintech lending dengan BPR, bisa diimplementasikan pada tahap ini.

    Adrian mengungkapkan bahwa setiap perusahaan pinjaman online juga bekerja sama dengan asuransi penjaminan. Hal ini sebagai langkah dalam memitigasi potensi risiko kredit macet di industri fintech lending.

    "Jadi prinsipnya karena ini bisa dibilang rata-rata unsecure, bagaimana kita mitigasi risikonya. Tentunya kita bekerja sama dengan asuransi penjaminan, baik itu dengan Jamkrindo, Askrindo, ataupun lembaga penjaminan swasta lainnya," ungkap Adrian.

    Sementara itu, Deputi Komisioner OJK Institute dan Keuangan Digital OJK Sukarela Batunanggar mendorong BPR untuk segera menerapkan strategi transformasi digital. Utamanya menjalin hubungan yang erat melalui pengembangan IT dan mengelola data dengan menerapkan analisis teknologi yang canggih.

    "Ini semuanya saya kira akan lebih efektif kalau  dilakukan secara kolaborasi, baik sesama BPR, bisa juga antara BPR dengan bank umum, bisa juga antara BPR dengan fintech. Jadi strategi ini lebih holistik dan juga kolaboratif," tutup Sukarela. 


    (Des)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id