Nasabah Mampu Harus Tetap Bayar Cicilan

    Husen Miftahudin - 19 Mei 2020 18:31 WIB
    Nasabah Mampu Harus Tetap Bayar Cicilan
    Ilustrasi nasabah bank - - Foto: MI/ Adam Dwi
    Jakarta: Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Heru Kristiyana meminta nasabah yang masih mampu agar tetap membayar cicilan kredit dan tidak ikut program restrukturisasi. Langkah tersebut akan membantu perbankan dalam merealisasikan program restrukturisasi kredit.

    "Bagi nasabah yang benar-benar tidak terdampak covid-19 dan masih mampu membayar kewajibannya kepada bank, kita tentunya harapkan untuk terus memenuhi kewajibannya. Ini supaya sektor perbankannya tidak mengalami dampak yang dalam terhadap berbagai upaya-upaya termasuk melakukan restrukturisasi," ujar Heru dalam diskusi daring Lembaga Perkembangan Perbankan Indonesia (LPPI) di Jakarta, Selasa, 19 Mei 2020.

    Heru mengakui dampak pandemi covid-19 pada sektor keuangan berpotensi mengganggu tingkat risiko kredit macet dan likuiditas permodalan. Setidaknya ada tiga risiko yang dihadapi sektor keuangan akibat pandemi yakni risiko kredit, risiko pasar, dan risiko likuiditas.

    "Di risiko kredit kalau sektor riilnya terdampak, misalnya tidak dapat memenuhi pokok maupun bunga (pinjaman) di perbankan, tentunya nanti bank harus mulai secara serius melihat dampak dari risiko kredit itu," sebutnya.


    Sementara adanya pelemahan instrumen keuangan dan nilai tukar membuat regulator meminta perbankan untuk lebih memelototi risiko pasar yang ada di bank masing-masing. Sedangkan untuk risiko likuiditas, bank-bank yang mendapatkan permohonan restrukturisasi harus mulai memperhatikan cash flow, karena restrukturisasi ini akan berdampak pada likuiditas bank tersebut.

    Program restrukturisasi dikeluarkan melalui Peraturan OJK (POJK) Nomor 11/POJK.03/2020 tentang Stimulus Perekonomian Nasional Sebagai Kebijakan Countercyclical Dampak Penyebaran Coronavirus Disease 2019.

    Beleid ini bertujuan untuk memberikan ruang bagi debitur yang berkinerja baik untuk dapat mengikuti program restrukturisasi kredit. POJK ini juga diharapkan dapat berperan sebagai kebijakan countercyclical, sebagai bantalan terhadap dampak negatif dari penyebaran covid-19.

    Pada aturan sebelumnya, kredit nasabah yang direstrukturisasi membutuhkan waktu selama tiga bulan. Sementara dalam program restrukturisasi ini, kredit nasabah bisa langsung lancar.

    Namun, OJK menegaskan akan terus berupaya untuk menyeimbangkan kebutuhan sektor riil dan kapasitas likuiditas sektor keuangan. Ini dilakukan agar program restrukturisasi kredit tidak membebankan salah satu pihak.

    "OJK dalam hal ini tentunya akan melihat keseimbangan di dalam POJK 11 kita melakukan relaksasi terhadap berbagai hal. Kita melihat keseimbangan antara sektor riil yang harus tetap hidup, tetapi bank-nya juga tidak mengalami permasalahan," tutup Heru.  




    (Des)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id