Rupiah Bakal Kesulitan Keluar dari Zona Negatif

    Angga Bratadharma - 08 April 2021 15:07 WIB
    Rupiah Bakal Kesulitan Keluar dari Zona Negatif
    Ilustrasi. FOTO: MI/SUSANTO



    Jakarta: Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) masih kesulitan keluar dari zona merah. Bahkan, diprediksi mata uang Garuda tetap 'bersemayam' di area negatif pada April hingga Mei seiring dengan proyeksi bahwa imbal hasil obligasi Pemerintah Amerika Serikat (AS) bakal terus naik di bulan ini.

    Economist Mirae Asset Sekuritas Anthony Kevin memperkirakan imbal hasil obligasi AS di April ini akan terus naik dan bakal bergerak normal di Mei 2021. Namun, mulai meredanya kenaikan imbal hasil obligasi di Mei tidak mengartikan nilai tukar rupiah bakal berhenti melemah. Ada sentimen negatif datang dari dalam negeri yang membuat rupiah tetap di area negatif.






    "Pertanyaannya ketika imbal hasil obligasi AS turun apakah rupiah bisa kembali menguat? Saya rasa tidak juga karena pelemahan rupiah adalah kombinasi dari imbal hasil AS dan rencana pemerintah (Indonesia) yang mendorong kembali Omnibus Law sektor keuangan," kata Anthony, dalam konferensi pers virtual, Kamis, 8 April 2021.

    Ia mengatakan Omnibus Law Sektor Keuangan akan memasukkan hal-hal baru di Bank Indonesia yang membuat bank sentral tidak lagi 100 persen independen. Kondisi itu bakal didorong pemerintah agar Bank Indonesia bisa melakukan burden sharing sejalan dengan upaya pemerintah yang sudah menggelontorkan dana hampir Rp700 triliun untuk penanganan covid-19.

    "Intinya adalah 2020 kemarin pemerintah harus putar otak agar ada cara mereka bisa menerbitkan utang di tengah minimnya investor yang mau membeli obligasi Indonesia karena tidak safe haven. Makanya ketika pemerintah menerbitkan obligasi maka Bank Indonesia yang membeli," tuturnya.

    Hal itu, lanjutnya, yang membuat mata uang Garuda kesulitan keluar dari jerat pelemahan. "Omnibus Law di sektor keuangan yang lagi didorong oleh pemerintah dan akan di bawah di 2021. Itu yang membuat rupiah melemah," tegasnya.

    Sementara itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Kamis pagi terpantau melemah ketimbang hari sebelumnya yang berada di posisi Rp14.505 per USD. Mata uang Paman Sam kian perkasa usai mendapat katalis positif berupa pemulihan ekonomi Amerika Serikat (AS) kian melesat sejalan dengan upaya vaksinasi covid-19.

    Nilai tukar rupiah pada perdagangan pagi dibuka tertekan ke posisi Rp14.522 per USD. Pagi ini nilai tukar rupiah bergerak di kisaran Rp14.510 hingga Rp14.522 per USD. Sedangkan menurut Yahoo Finance, nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.366 per USD.

    Sedangkan nilai tukar dolar AS naik tipis terhadap sejumlah mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Rabu waktu setempat (Kamis WIB). Risalah pertemuan Federal Reserve Maret menunjukkan bank sentral AS berkomitmen memperpanjang dukungan kebijakan moneter sampai kebangkitan kembali ekonomi di Amerika Serikat lebih aman.


    Menurut risalah tersebut, ketika ekonomi AS mulai menguat tahun ini, para pejabat Federal Reserve tetap berhati-hati tentang berlanjutnya risiko pandemi dan berkomitmen untuk memberikan dukungan kebijakan moneter sampai rebound lebih aman.

    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id