Wamentan: Sektor Pertanian Jadi Penyelamat Ekonomi di Tengah Pandemi

    Husen Miftahudin - 29 Juli 2021 18:57 WIB
    Wamentan: Sektor Pertanian Jadi Penyelamat Ekonomi di Tengah Pandemi
    Ilustrasi. Foto: MI/Hafidz



    Jakarta: Wakil Menteri Pertanian Harvick Hasnul Qolbi menyatakan sektor pangan dan pertanian bisa menjadi salah satu faktor yang bisa menjaga stabilitas ekonomi, sosial, dan politik di masa pandemi covid-19 ini. Sektor ini dinilai strategis karena berhubungan dengan pembangunan ekonomi berkelanjutan dan ketersediaan pangan.

    "Sektor pertanian jadi penyumbang APBN terbesar di 2020, sebesar 16 persen atau tumbuh dua persen lebih (dibanding 2019). Dan di 2021 sampai dengan hari ini terus tumbuh. Kami terus berupaya untuk bagaimana meningkatkan pemasukan negara," ujar Harvick dalam keterangan resminya, Kamis, 29 Juli 2021.

     



    Tak hanya itu, lanjutnya, sektor pertanian juga saat ini menjadi penyelamat perekonomian negara karena banyaknya tenaga kerja sektor industri yang beralih ke pertanian. Berdasarkan catatan Kementerian Pertanian (Kementan) ada hampir empat juta tenaga kerja sektor industri yang beralih ke pertanian di masa pandemi covid-19.

    "Walaupun ini dilakukan secara sporadis, tapi ini terus kita bina, kita bimbing, agar mereka siap pakai dan menjadi petani profesional," tegasnya.

    Harvick juga menegaskan bahwa program-program pertanian yang lain juga sedang dan akan terus dijalankan, yakni program-program yang berhubungan dengan peningkatan produktivitas pangan. Meskipun ia mengakui bahwa kondisi pandemi memang membuat kinerja anggaran menjadi kurang optimal.

    "Per Juli penyerapan anggaran baru 20 persen, ini memang berkaitan dengan covid-19. Jadi akhirnya bagaimana menstimulasi dana tersebut untuk bisa langsung diserap," tuturnya.

    Namun demikian, Harvick memastikan bahwa program-program Kementan bakal tetap dioptimalkan, baik kepada petani maupun terkait dengan ketersediaan pangan ke depan, termasuk di masa pandemi.

    "Kita terus usahakan, dan ini bisa dibuktikan dengan tidak langkanya kebutuhan pangan kita. Kita bisa mengurangi impor, utamanya beras. Kita sudah lakukan itu," tutur Harvick.

    Dalam kesempatan yang sama, ekonom senior dan mantan menteri di era Orde Baru Emil Salim mengingatkan pemerintah terkait beberapa hal dalam sektor pertanian, yakni fokus orientasi sektor pertanian dan kesejahteraan dari petani itu sendiri.

    Pemerintah diminta untuk tidak hanya fokus mengejar ketersediaan pangan (food security), melainkan juga harus mengejar kedaulatan pangan atau food sovereignty.

    "Orientasi harus diubah, yang kita kejar bukan food security, bukan jaminan pangan, tapi food sovereignty atau kedaulatan pangan. Kalau food security apabila harga naik, jalan keluarnya adalah impor dan itu selalu dilakukan, padahal harga-harga di lapangan tidak menguntungkan para petani kita. Jangan melihat dari suplai demand, itu salah. Tapi yang kita utamakan adalah production capacity," tuturnya.

    Emil juga mengingatkan pemerintah agar dalam menyusun kebijakan pertanian, tetap bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan petani. Ia pun menyebut situasi saat ini nilai tukar petani lebih rendah dari modal yang harus dikeluarkan petani.

    "Nilai tukar petani pada 2021 ini di bawah 100. Seluruh Pulau Jawa, Bali, kemudian NTT, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Timur, Maluku Utara, Aceh, dan Lampung, semua menduduki posisi nilai tukar petani di bawah 100. Berarti yang diterima oleh para petani lebih kecil dari apa yang dikeluarkan petani. Harga-harga di lapangan tidak menguntungkan para petani kita," pungkasnya.

    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id