Pro Kontra Rencana Himbara Jadi Bank Penyangga Likuiditas

    Annisa ayu artanti - 12 Mei 2020 13:23 WIB
    Pro Kontra Rencana Himbara Jadi Bank Penyangga Likuiditas
    Ilustrasi. Foto: Antara/Puspa Perwitasari
    Jakarta: Head of Research Panin Sekuritas Nico Laurens menilai rencana penunjukan Himpunan Bank Milik Negara (BUMN) sebagai penyangga likuiditas bank-bank yang mengalami kesulitan suatu upaya yang bagus.

    Menurutnya, dengan ada rencana tersebut likuiditas perbankan nasional akan terjaga. Himbara akan menjadi penyelamat bagi bank-bank lain yang tercekik di situasi sulit.

    "Kita lihat harusnya positif ya. Ada tambahan likuiditas. Jadi dari sisi funding bisa meningkat," kata Nico kepada Medcom.id, Selasa, 12 Mei 2020.

    Meskipun dalam hal ini juga terdapat konsen relaksasi kredit macet (non performing loan/NPL), ia juga menuturkan, jika terdapat temporary fund dari pemerintah tetap akan membantu.

    "Ada concern soal relaksasi NPL sih, tapi kalau dibantu, kalau ada temporary fund dari government harusnya lumayan menolong," ujarnya.

    Lebih lanjut, Nico juga menambahkan rencana ini tidak begitu memengaruhi kinerja saham bank Himbara tersebut. Sebab, rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) perbankan tersebut masih tinggi.

    "Saya sih masih positif ya, mungkin dari kredit pasti jelek, NPL naik. Cuma dari sisi risiko harusnya cukup kuat dibanding sektor lain, karena CAR-nya masih tinggi," tukasnya.

    Berbeda dengan Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Aviliani yang mengaku tak sependapat jika bank Himbara menjadi bank penyangga likuiditas.

    Menurutnya, kebijakan ini akan memengaruhi saham bank-bank BUMN, karena dikhawatirkan para pemegang saham minoritas memiliki pandangan negatif soal kebijakan tersebut.

    "Harus hati-hati juga karena bank Himbara sudah go publik. Jadi ada pemegang saham minoritaskan, nah itu kan bahaya juga. Mereka pasti berpikir 'lho ini kan bank harus mencari profit, tapi malah menangani yang lain'. Mereka pasti juga berpikir menangani restrukturisasi saja sudah banyak sekali dan repot, ini malah bank lain," ujar Aviliani.

    Di sisi lain, penunjukan bank Himbara sebagai penyangga likuiditas akan menimbulkan konflik kepentingan antara bank penyangga likuiditas dengan penerima likuiditas.

    Sebagai bank penyangga likuiditas, tentu bank Himbara harus bisa menilai dan membantu likuiditas bank-bank yang sedang kesulitan. Padahal, dalam hal ini, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memiliki wewenang untuk melakukan penilaian.
     
    "Ada beberapa yang perlu dipertimbangkan kalau Himbara yang menjadi penyangga likuiditas. Pertama pasti ada conflict of interest, karena Himbara akan menilai bank lain, karena otomatis kan yang menerima likuiditas banknya, pasti Himbara menilai bank penerima likuiditas. Padahal, selama ini kan saling rahasia-rahasian antar bank," ungkapnya.  
     



    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id