Sri Mulyani Minta Industri Keuangan Syariah Waspadai Dampak Covid-19

    Media Indonesia - 24 Juli 2020 08:25 WIB
    Sri Mulyani Minta Industri Keuangan Syariah Waspadai Dampak Covid-19
    Menteri Keuangan Sri Mulyani. Foto: Medcom.id/Desi Angriani.
    Jakarta: Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengimbau agar industri keuangan syariah turut waspada atas dampak pandemi covid-19.

    Itu berkaca dari gejolak yang terjadi di pasar modal keuangan syariah dan sektor perbankan syariah pada saat pandemi merebak di Tanah Air. Sri Mulyani bilang, pada awal Maret 2020, Jakarta Islamic Index (JII) sempat terkoreksi cukup dalam ketika kasus covid-19 pertama diumumkan di Indonesia.

    JII sempat terkoreksi hingga 6,44 persen dan levelnya berada di bawah 400 sebelum akhirnya kembali pulih pada awal April. Menurutnya, stabilitas pertumbuhan modal pasar syariah sangat diperlukan untuk mendukung pengembangan dan pemulihan industri syariah, khususnya industri takaful dan asuransi syariah.

    "Industri takaful sangat banyak mengelola investasinya di pasar modal syariah. Dengan demikian terjadi koreksi yang tajam akan mempengaruhi pengelolaan dana di industri takaful tersebut. 82,3 persen atau Rp39,8 triliun dari industri takaful diinvestasikan di beberapa instrumen sepeti saham syariah, sukuk, dan reksa dana," jelasnya dalam diskusi secara virtual, Kamis, 23 Juli 2020.

    Dampak buruk dari pandemi covid-19, lanjut Sri Mulyani, juga dirasakan oleh sektor perbankan syariah. Padahal perbankan syariah pada 2019 berhasil memiliki pertumbuhan double digit dengan market share di atas lima persen.

    Hal itu, kata perempuan yang karib disapa Ani tersebut, kemungkinan akan mengalami penurunan signifikan di 2020 karena pandemi. Sebab, penyaluran perbankan syariah mayoritas disalurkan kepada sektor yang bukan merupakan lapangan usaha.

    Misal, pada 2019 penyaluran perbankan syariah kepada pemilik rumah tinggal mencapai Rp83,7 triliun dan pemilik peralatan rumah tangga lainnya termasuk multiguna sebesar Rp55,8 triliun. Kemudian diikuti oleh sektor lapangan usaha seperti perdagangan besar dan eceran mencapai Rp37,3 triliun, konstruksi Rp32,5 triliun dan industri pengolahan sebesar Rp27,8 triliun.

    "Saat ini perbankan syariah harus memulai revisi target pertumbuhan, sama seperti perbankan yang lain. Selain itu, karena ada peningkatan risiko akibat pandemi dan merosotnya kegiatan akibat pandemi, ini tidak saja mempengaruhi untuk memberikan pembiayaan. Kenaikan risiko dalam NPL/NPF akan menentukan apakah bisa bertahan atau bangkit kembali," tutur Ani.

    Munculnya peningkatan risiko tersebut tak luput dari adanya pembatasan aktivitas sosial dan ekonomi demi menekan penyebaran pandemi covid-19 yang kian hari justru meningkat.

    "PSBB menyebabkan turunnya kegiatan yang disebutkan tadi. Risiko tersebut dihadapi perbankan secara umum dan syariah tentu harus diwaspadai. Risiko peningkatan kesulitan likuiditas, penurunan aset keuangan, penurunan profitabilitas dan risiko pertumbuhan perbankan syariah yang melambat atau bahkan negatif," pungkas Ani. (M. Ilham Ramadhan Avisena)

    (AHL)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id