BI: Ekonomi Saat Ini Beda dengan Krisis 1998 dan 2008

    Husen Miftahudin - 26 Maret 2020 18:29 WIB
    BI: Ekonomi Saat Ini Beda dengan Krisis 1998 dan 2008
    Deputi Gubernur BI Perry Warjiyo. Foto: MI/PANCA SYURKANI
    Jakarta: Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo kembali menegaskan kondisi ekonomi 2020 berbeda dengan krisis moneter 1998 dan resesi global 2008. Kondisi pelemahan ekonomi yang terjadi saat ini merupakan dampak atas wabah virus korona (covid-19) yang merebak ke seluruh penjuru dunia.

    "Kami ingin menekankan bahwa yang kita hadapi sekarang ini sangat berbeda, jangan dibandingkan dengan global financial crisis (2008) apalagi dengan krisis Asia (1998). Yang kita hadapi ini tidak hanya masalah pasar keuangan, tidak hanya masalah ekonomi, tapi masalah kemanusiaan," ujar Perry melalui telekonferensi dari kantor pusat Bank Indonesia, Jakarta Pusat, Kamis, 26 Maret 2020.

    Perry menjelaskan, resesi global pada 2008 terjadi lantaran pasar keuangan di AS terlilit kasus subprime mortgage. Kasus ini bermula saat pemerintah AS memberi kemudahan kepemilikan rumah terhadap kaum kelas menengah bawah (berpendapatan rendah atau subprime).

    Sayangnya, subprime mortgage atau kredit jangka panjang yang berkisar antara 10-20 itu kemudian terjadi default atau mismatch credit akibat 'bermainnya' bank kredit perumahan (KPR) terbesar di AS, Lehmann Brothers yang menjual kembali KPR-nya ke Bank Investasi.

    "Pada krisis global itu yang terjadi adalah bagaimana pasar keuangan di AS karena ada subprime mortgage yang kemudian menjadi default dan membuat kepanikan di pasar keuangan AS. Kemudian menjalar ke Eropa dan kita kena dampaknya," jelas Perry.

    Pun demikian halnya dengan perbedaan situasi ekonomi saat ini dengan krisis moneter 1998 yang melanda negara-negara Asia. Utamanya terkait dengan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (USD). Meski, nilai mata uang Garuda saat ini hampir setara dengan posisi terendah rupiah pada Juli 1998 yang tembus ke Rp16.800 per USD.

    Pada krisis moneter itu, nilai tukar rupiah anjlok secara drastis, dari Rp2.500 per USD menjadi sekitar Rp16 ribu per USD. Artinya, kala itu rupiah ambles hampir delapan kali lipat dibandingkan posisi semula.

    "Sementara (pelemahan rupiah di) Rp16 ribu sekarang dari sekitar Rp13.800 per USD. Tingkat pelemahannya memang sekitar 12 persen, tapi jauh lebih kecil dari kondisi-kondisi pada 1998 dulu juga dengna krisis global pada 2008," ketusnya.

    Sementara, krisis ekonomi sekarang terjadi karena masalah pandemik covid-19 yang penyebarannya sangat cepat. Virus yang menyerang sistem pernapasan ini melanda di hampir seluruh negara yang ada di dunia, termasuk Italia, Tiongkok, Jerman, Prancis, Spanyol, Inggris, hingga AS.

    Alhasil investor dan pemilik modal di pasar keuangan global panik dan menjual aset-aset keuangan mereka seperti saham, obligasi, hingga emas ke dalam bentuk uang tunai (cash USD). Kondisi tersebut menyebabkan perekonomian di seluruh negara ambrol lantaran minim investasi.

    "Para pemilik dana global menjual aset-aset keuangan mereka, tidak memandang bulu dari mana negaranya dan tingkat berapa imbal hasil ataupun rating-nya. Mereka ingin menukarkan kepada tunai, dalam hal ini USD. Ini yang terjadi sejak sekitar dua minggu yang lalu," beber Perry.

    Meski demikian, kondisi penopang perekonomian lainnya seperti industri perbankan di dunia saat ini masih kuat, bahkan jauh lebih kuat ketimbang krisis-krisis terdahulu. Di Indonesia, rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) terjaga di level 23 persen.

    "NPL (Non-Performing Loan/kredit macet) sebelum covid-19 ini rendah 2,5 persen secara gross dan 1,3 persen netto. Lagkah ekonomi kita juga cukup baik, mulai dari kebijakan-kebijakan fiskal, kebijakan moneter, maupun kebijakan Stabilitas Sistem Keuangan yang juga baik," urainya.

    Oleh karena itu Bank Indonesia terus berkoordinasi dengan pemerintah melalui Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) untuk terus melakukan langkah-langkah mitigasi penyebaran covid-19 meluas di Indonesia.

    "Saya juga menggarisbawahi seruan pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk melakukan Work from Home (WfH), social distancing, maupun juga melakukan langkah-langkah pencegahan covid-19 ini. Karena semakin cepat dan semakin baik kita mengatasi masalah covid-19 ini, maka dampak terhadap pasar keuangan dan ekonomi akan bisa segera diminalisir," tutup Perry.



    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id