Bos BI: Alhamdulillah, Masa Kritis Covid-19 Sudah Berlalu

    Husen Miftahudin - 03 Desember 2020 12:32 WIB
    Bos BI: Alhamdulillah, Masa Kritis Covid-19 Sudah Berlalu
    Gubernur BI Perry Warjiyo. Foto: dok Bank Indonesia
    Jakarta: Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo merasa bersyukur pandemi covid-19 yang sudah hadir di Indonesia selama lebih dari sembilan bulan, telah melalui masa-masa kritisnya. Kondisi ini secara perlahan membuat perekonomian nasional semakin stabil dan membaik berkat sinergi semua pihak dalam memabngun optimisme pemulihan ekonomi.

    "Sembilan bulan kita telah berjuang melawan covid-19, Alhamdulillah masa kritis telah berlalu. Dengan sinergi, stabilitas terjaga, perekonomian mulai membaik. Sinergi itulah yang perlu kita perkuat untuk membangun optimisme pemulihan ekonomi lebih baik lagi ke depan menuju Indonesia Maju," ujar Perry dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia secara virtual, Kamis, 3 Desember 2020.

    Perry juga menaruh rasa optimistis terhadap perkembangan ekonomi global yang pada 2021 akan tumbuh positif hingga lima persen, setelah terkontraksi 3,8 persen pada tahun ini. Sinyal pemulihan ini terlihat dari perbaikan ekonomi di banyak negara, termasuk Tiongkok dan Amerika Serikat (AS), didukung stimulus fiskal dan moneter serta mulai meningkatnya mobilitas manusia dan aktivitas perekonomian.

    "Ketidakpastian pasar keuangan global mereda, aliran modal asing mulai masuk ke negara emerging market, didorong melimpahnya likuiditas global dan rendahnya suku bunga negara maju. Tekanan nilai tukar dari dolar AS juga menurun," ungkapnya.

    Di dalam negeri, perekonomian nasional juga membaik dengan pertumbuhan berada di kisaran 4,8 persen hingga 5,8 persen pada 2021. Sinyal pemulihan ekonomi RI sudah mulai terjadi sejak kuartal III-2020 dan terus membaik hingga akan menembus angka positif pada kuartal IV-2020.

    Pertumbuhan ekonomi juga meningkat di seluruh daerah didukung kenaikan ekspor imbas perbaikan ekonomi global, konsumsi dengan stimulus belanja sosial dari pemerintah, investasi dengan stimulus belanja modal, investasi swasta dengan Undang-Undang (UU) Cipta Kerja, serta meningkatnya mobilitas manusia dengan vaksinasi.

    Perry juga yakin tingkat inflasi rendah di bawah dua persen pada 2020 dan terjaga pada sasaran tiga plus minus satu persen pada 2021, dengan masih relatif lebih lemahnya permintaan, terjaganya ekspektasi inflasi, stabilitas rupiah, serta kredibilitas kebijakan Bank Indonesia dan koordinasi Tim Pengendalian Inflasi di pusat maupun di daerah.

    "Nilai tukar rupiah stabil dan cenderung menguat didukung kebijakan stabilisasi Bank Indonesia dan masuknya aliran modal asing. Rupiah secara fundamental masih undervalue dan berpotensi menguat dengan rendahnya inflasi defisit transaksi berjalan, tingginya imbal hasil hasil investasi, dan menurunnya premi risiko Indonesia," pungkas Perry. 

    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id