Investor Tidak Perlu Khawatir Berlebihan saat Imbal Hasil Obligasi AS Terus Naik, Ini Alasannya

    Angga Bratadharma - 05 Maret 2021 09:46 WIB
    Investor Tidak Perlu Khawatir Berlebihan saat Imbal Hasil Obligasi AS Terus Naik, Ini Alasannya
    Ilustrasi. FOTO: Dok MI/PANCA SYURKANI



    Jakarta: Mirae Asset Sekuritas Indonesia memandang para investor saham tidak perlu khawatir dengan terus melonjaknya imbal hasil obligasi Pemerintah Amerika Serikat (AS) bertenor 10 tahun. Selama bank sentral AS belum merespons dengan menaikkan suku bunga acuan maka efek lonjakan obligasi tersebut tak akan signifikan terhadap pasar saham.

    Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia Martha Christina tak menampik imbal hasil obligasi Pemerintah AS beberapa pekan ini terus naik dan menjadi fokus utama para investor saham. Pasalnya, kenaikan imbal hasil tersebut memunculkan spekulasi apakah bank sentral AS melakukan tapering atau tidak.






    Tapering adalah langkah pengurangan gradual bank sentral terhadap tindakan-tindakan yang diterapkan untuk memacu pertumbuhan ekonomi. Tapering dilaksanakan ketika para pembuat kebijakan di bank sentral meyakini bahwa ekonomi sudah pulih dan tak lagi memerlukan stimulus.

    "Pelaku pasar takut nanti apakah akan terjadi tapering oleh bank sentral AS atau tidak dan keluarnya dana asing. Kenaikan US Treasury ini menjadi fokus para pelaku pasar," kata Martha, dalam Mirae Asset Media Day bertajuk 'Melihat Opportunity Market di Maret', Kamis, 4 Maret 2021.

    Namun, Martha menekankan, selama bank sentral AS yakni Federal Reserve tidak menaikkan suku bunga acuan maka tidak perlu ada yang dikhawatirkan. Ia memandang the Fed belum akan menaikkan suku bunga acuan karena target inflasi dua persen di Amerika Serikat (AS) belum tercapai dan masih ada perbaikan yang harus dilakukan pemerintah.

    "Pemerintah AS sendiri masih memberikan stimulus tambahan. Ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi AS belum stabil atau belum sesuai seperti yang mereka inginkan. Jadi kita lihat tidak perlu khawatir berlebihan (dengan imbal hasil obligasi Pemerintah AS 10 tahun yang terus naik)," ucapnya.

    Sebelumnya, DPR Amerika Serikat mengesahkan paket bantuan virus korona senilai USD1,9 triliun atau setara Rp26.822 triliun (kurs Rp14.117) yang diusulkan Pemerintahan Joe Biden. Usai disahkan, DPR AS mengirimkan proposal tersebut ke Senat AS dengan Demokrat bergegas untuk menyetujui lebih banyak bantuan sebelum program pengangguran berakhir.
     
    Upaya itu adalah inisiatif legislatif besar pertama untuk Presiden AS Joe Biden. Bantuan tersebut diharapkan bisa meringankan beban masyarakat dan memacu pemulihan ekonomi AS usai terhantam keras oleh pandemi covid-19. Terlepas dari semua, sejauh ini upaya pemulihan ekonomi AS mulai terlihat.
     
    Adapun Senator akan mulai mempertimbangkan rencana bantuan pandemi minggu depan. Sementara anggota parlemen akan menawarkan amandemen, dan majelis kemungkinan akan mengesahkan versi RUU yang berbeda. Ini berarti DPR AS harus mengesahkan rencana Senat atau kamar harus menyusun proposal akhir dalam komite konferensi.

    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id