Taji Dolar AS Masih Kuat, Penurunan Suku Bunga Acuan Tak Mampu Selamatkan Rupiah

    Husen Miftahudin - 18 Februari 2021 18:11 WIB
    Taji Dolar AS Masih Kuat, Penurunan Suku Bunga Acuan Tak Mampu Selamatkan Rupiah
    Ilustrasi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS - - Foto: Antara/ Dhemas Reviyanto



    Jakarta: Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi menilai taji dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini masih terlalu kuat bagi rupiah. Bahkan, penurunan suku bunga acuan yang dilakukan Bank Indonesia (BI) pada hari ini tak mampu menyelamatkan rupiah dari zona merah.

    "Dolar AS menguat menyusul kenaikan back to back pertama dalam dua pekan sebelumnya. Data AS yang terus positif meningkatkan harapan bahwa negara itu akan melihat pemulihan ekonomi yang lebih cepat dari covid-19," ujar Ibrahim dalam keterangan tertulis yang diterima Medcom.id, Kamis, 18 Februari 2021.






    Menurutnya, data AS yang optimis memberikan dorongan pada greenback. Alhasil penjualan ritel inti tumbuh 5,9 persen, melonjak bila dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya yang hanya 1,0 persen dan minus 1,8 persen pada Desember 2020.

    Selain itu, Indeks Harga Produsen juga tumbuh 1,3 persen di Januari 2021, lebih tinggi dari perkiraan pertumbuhan 0,4 persen dan pertumbuhan 0,3 persen di Desember 2020. Penjualan ritel tumbuh 5,3 persen, berlawanan dengan perkiraan pertumbuhan 1,1 persen dan penurunan 1,0 persen di Desember.

    "Kemajuan juga sedang dibuat terkait paket stimulus USD1,9 triliun yang diusulkan Presiden Joe Biden. Rencana ini didukung oleh penurunan tajam infeksi baru dan peluncuran vaksin yang cepat, sehingga membuat AS berada dalam posisi yang baik untuk pulih lebih cepat," urai Ibrahim.

    Dari faktor internal, krisis ekonomi akibat pandemi covid-19 memperlebar jurang antara negara-negara di kawasan Asia, khususnya negara berkembang salah satunya Indonesia yang saat ini sedang berjuang untuk bangkit dari keterpurukan.

    "Bahkan, ada kemungkinan pertumbuhan ekonomi domestik pada kuartal I-2021 ini masih terjadi kontraksi. Ini bisa dilihat dari perkembangan pertumbuhan ekonomi Januari-Februari 2021 di mana pemerintah masih menerapkan PSBB ketat," ungkapnya.

    Adapun mengutip data Bloomberg pada penutupan perdagangan hari ini, nilai tukar rupiah terhadap USD melemah tipis bila dibandingkan dengan penutupan hari sebelumnya, yakni berada di posisi Rp14.025 per USD. Rupiah melemah lima poin atau setara 0,04 persen.

    Menukil data Yahoo Finance, rupiah juga berada di zona merah pada posisi Rp14.037 per USD. Rupiah melemah 22 poin atau setara 0,16 persen dari Rp14.015 per USD di penutupan perdagangan hari sebelumnya.

    Begitu pula dengan data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dolar Rate (Jisdor), rupiah diperdagangkan di level Rp14.059 per USD atau melemah 40 poin dari nilai tukar rupiah pada perdagangan hari sebelumnya sebesar Rp14.019 per USD.

    "Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah kemungkinan dibuka melemah namun ditutup menguat di rentang Rp14.000 per USD sampai Rp14.040 per USD," tutup Ibrahim.

    (Des)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id