Suntikan Likuiditas BI ke Perbankan Capai Rp129,9 Triliun

    Husen Miftahudin - 19 Oktober 2021 18:10 WIB
    Suntikan Likuiditas BI ke Perbankan Capai Rp129,9 Triliun
    Ilustrasi. Foto: Medcom.id



    Jakarta: Bank Indonesia (BI) terus berupaya agar kondisi likuiditas perbankan dan pasar keuangan tetap longgar. Hal ini sejalan dengan kebijakan moneter bank sentral yang akomodatif seiring sinergi dengan kebijakan fiskal pemerintah untuk mendorong pemulihan ekonomi nasional.

    "Bank Indonesia telah menambah likuiditas (quantitative easing) di perbankan sebesar Rp129,92 triliun pada tahun 2021 (hingga 15 Oktober 2021)," ucap Gubernur BI Perry Warjiyo dalam Pengumuman Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bulanan BI secara virtual, Selasa, 19 Oktober 2021.

    Kebijakan quantitative easing bank sentral ini melanjutkan injeksi likuiditas tahun 2020 yang mencapai Rp726,57 triliun. Sehingga, injeksi likuiditas oleh Bank Indonesia sejak tahun 2020 sampai dengan 15 Oktober 2021 mencapai Rp856,49 triliun.

    Perry menambahkan bahwa Bank Indonesia juga melanjutkan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar perdana untuk pendanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun 2021.

    Hingga 15 Oktober 2021, pembelian SBN di pasar perdana yang dilakukan bank sentral mencapai sebesar Rp142,54 triliun. Terdiri dari Rp67,08 triliun melalui mekanisme lelang utama dan Rp75,46 triliun melalui mekanisme Greenshoe Option (GSO).

    "Dengan ekspansi moneter tersebut, kondisi likuiditas perbankan pada September 2021 sangat longgar, tercermin pada rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) yang tinggi, yakni 33,53 persen," urainya.

    Adapun pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) tercatat sebesar 7,69 persen (yoy). Angka ini melambat dibandingkan bulan sebelumnya, sejalan dengan pemulihan aktivitas usaha dan konsumsi masyarakat.

    Sementara itu, likuiditas perekonomian meningkat, tercermin pada uang beredar dalam arti sempit (M1) dan luas (M2) yang tumbuh meningkat masing-masing sebesar 11,2 persen (yoy) dan 8,0 persen (yoy).

    "Pertumbuhan uang beredar tersebut terutama didukung oleh kredit perbankan yang mengindikasikan semakin meningkatnya pembiayaan bagi pemulihan ekonomi nasional," pungkas Perry.(DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id