Inflasi Belum Naik, BI Bakal Tahan Suku Bunga 3,5%

    Husen Miftahudin - 02 Juni 2021 18:43 WIB
    Inflasi Belum Naik, BI Bakal Tahan Suku Bunga 3,5%
    Ilustrasi logo Bank Indonesia - - Foto: MI/ Usman Iskandar



    Jakarta: Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyatakan masih akan mempertahankan kebijakan suku bunga acuan yang rendah pada tahun ini. Hal tersebut dilakukan seiring dengan belum adanya tanda-tanda kenaikan inflasi.

    Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi Mei 2021 adalah sebesar 0,32 persen, sementara inflasi secara tahun kalender atau year to date tercatat sebesar 0,90 persen, dan inflasi tahun ke tahun atau year on year (yoy) sebesar 1,68 persen. Angka ini masih berada di bawah target inflasi Bank Indonesia sebesar 3,0 persen plus minus satu persen atau kisaran 2,0 persen sampai 4,0 persen secara yoy.

    "Kami tetap akan menempuh kebijakan suku bunga rendah sampai kemudian muncul tanda-tanda awal mengenai kenaikan inflasi baru, kemungkinan tahun depan," ucap Perry dalam Rapat Kerja (Raker) bersama Komisi XI DPR, Rabu, 2 Juni 2021.

     



    Terkait hal tersebut, lanjutnya, bank sentral kemungkinan masih akan tetap mempertahankan suku bunga acuan saat ini sebesar 3,5 persen. Level kebijakan moneter ini merupakan yang terendah sepanjang sejarah.

    Di sisi lain, Bank Indonesia bersama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) akan terus mendorong penurunan suku bunga kredit. Ia beralasan bahwa spread antara bunga kredit dengan bunga acuan masih jauh.

    "Spread-nya (suku bunga kredit) dengan suku bunga kebijakan masih jauh. Perbankan sudah mulai turun, tapi kami tetap akan mendorong supaya suku bunga kredit turun," tegas Perry.

    Adapun Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK) perbankan pada Maret 2021 telah menurun sebesar 174 bps (yoy) menjadi 8,9 persen. Kelompok bank BUMN mencatatkan penurunan SBDK paling tinggi di antara kelompok bank-bank besar lainnya yaitu sebesar 270 bps (yoy). Sementara SBDK kelompok bank lainnya masih menurun secara terbatas.

    Namun di sisi lain, penurunan SBDK tersebut belum diikuti dengan penurunan suku bunga kredit baru secara sepadan, yaitu hanya turun sebesar 59 bps (yoy) pada periode yang sama.

    Berdasarkan kelompok bank, kelompok Bank Pembangunan Daerah (BPD), Bank Umum Swasta Nasional (BUSN), dan bank BUMN mencatatkan penurunan suku bunga kredit baru yang masih sangat rendah, yaitu masing masing sebesar 34 bps (yoy), 52 bps (yoy), dan 55 bps (yoy)

    Sementara itu, kelompok Kantor Cabang Bank Asing (KCBA) mengalami penurunan suku bunga kredit baru paling signifikan yaitu sebesar 158 bps (yoy). Hal tersebut mendorong suku bunga kredit baru untuk kelompok BPD dan BUSN berada pada level tertinggi dibandingkan dengan kelompok bank lainnya, yaitu masing-masing sebesar 10,05 persen dan 9,32 persen.

    Sementara itu, suku bunga kredit baru bank BUMN dan Kantor Cabang Bank Asing tercatat masing-masing sebesar 8,70 persen dan 5,34 persen.

    "Kami sampaikan di sini bahwa komitmen kami untuk mengarahkan seluruh kebijakan Bank Indonesia baik moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran untuk mendukung pemulihan ekonomi. Tentu saja dengan tetap menjaga stabilitas makroekonomi, moneter, dan sistem keuangan, berkoordinasi erat dengan pemerintah dan KSSK," pungkas Perry.


    (Des)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id