Sebelumnya, perbankan meminta masa restrukturisasi kredit diperpanjang. Tidak hanya hingga Maret 2023. Hal ini seiring masih tingginya ketidakpastian ekonomi dan pelaku usaha juga masih perlu waktu untuk pulih dari pandem covid-19.
Head of Investment Reswara Gian Investa Kiswoyo Adi Joe memprediksi pemerintah tidak akan memperpanjang masa restrukturisasi. Hal ini karena ekonomi sedang dalam masa pemulihan, terutama karena pada 2023 akan memasuki tahun politik.
"Artinya, uang akan berputar 30 kali lipat dari kondisi biasanya. Bank Indonesia membuat kebijakan yang pro pertumbuhan ekonomi," jelas dia, dalam program Zona Bisnis Metro TV, Jumat, 24 Juni 2022.
Baca juga: BI Prediksi Penyaluran Kredit Tumbuh Positif di Mei 2022 |
Jika OJK tidak memperpanjang restrukturisasi kredit, Kiswoyo menyebut rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) bisa meningkat. Meski, masih dalam batas wajar.
Direktur Celios Bhima Yudhistira menilai beberapa sektor perlu mendapat perlakuan khusus dengan perpanjangan restrukturisasi hingga 2025.
Sebelumnya, Presiden Direktur BCA dalam diskusi outlook perbankan mengatakan para pelaku usaha berharap OJK kembali memperpanjang relaksasi kredit setahun ke depan. Alasannya, dunia usaha masih butuh waktu untuk pulih.
"Relaksasi kredit sangat membantu debitur untuk pulih. Perbankan tidak serta merta memasukkan masalah terhambatnya pembayaran kredit ke dalam kategori kredit bermasalah atau NPL," jelas Jahja.
NPL bank Himbara
Terkait kinerja NPL perbankan, khususnya bank Himbara, hingga kuartal I-2022 masih terjaga. Meski ada segmen yang masih mencatat NPL tinggi.NPL PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) pada kuartal I-2022 tercatat sebesar 3,5 persen, lebih rendah dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar 4,25 persen. Kredit konstruksi segmen perumahan yang mencatatkan NPL paling tinggi sebesar 21,62.

Sumber: Research Center Metro TV
Kemudian PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) atau BNI mencatatkan penurunan NPL dari 4,1 persen menjadi 3,5 persen dengan NPL tertinggi di segmen medium, yakni sebesar 8,4 persen.
Selanjutnya PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mencatatkan penurunan dari 3,15 persen menjadi 2,66 persen dengan segmen komersial yang mencatatkan NPL tertinggi sebesar 8,47 persen.
Sedangkan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) atau BRI mencatatkan kenaikan tipis NPL, yaitu dari 3,12 persen ke 3,15 persen, dengan segmen korporasi yang mencatatkan NPL sebesar 5,89 persen. (Jessica Wulandari)
(AHL)