Meski Resesi, Pasar Keuangan RI Justru Kebanjiran Dana Asing

    Husen Miftahudin - 06 November 2020 16:17 WIB
    Meski Resesi, Pasar Keuangan RI Justru Kebanjiran Dana Asing
    Ilustrasi dana asing masuk ke Indonesia - - Foto: dok AFP
    Jakarta: Ekonomi Indonesia resmi terkena resesi secara teknikal lantaran pertumbuhan ekonomi RI pada kuartal III-2020 kembali terkontraksi sebesar minus 3,49 persen. Namun demikian, investor asing justru berbondong-bondong menempatkan modalnya di pasar keuangan dalam negeri.

    Berdasarkan catatan Bank Indonesia (BI), dana-dana asing selama sepekan terakhir kembali membanjiri pasar keuangan domestik. Dari data transaksi 2-5 November 2020, dana-dana dari investor asing (nonresiden) di pasar keuangan domestik mengalir (beli neto/capital inflow) sebesar Rp3,81 triliun.

    Mengalirnya modal asing ke pasar keuangan domestik ini ditopang oleh derasnya pembelian di pasar Surat Berharga Negara (SBN), dengan catatan inflow sebesar Rp3,87 triliun. Sementara dana asing di pasar saham justru minggat (jual neto) sebanyak Rp0,06 triliun.

    "Berdasarkan data setelmen selama 2020 secara year to date (ytd), nonresiden di pasar keuangan domestik (masih tercatat) jual neto sebesar Rp161,24 triliun," ungkap Kepala Departemen Komunikasi BI Onny Widjanarko yang tertuang dalam perkembangan indikator stabilitas nilai rupiah, Jumat, 6 November 2020.

    Adapun premi risiko atau credit default swap (CDS) Indonesia lima tahun turun di 82,64 bps per 5 November 2020 dari 97,96 bps per 30 Oktober 2020. CDS merupakan indikator untuk mengetahui risiko berinvestasi di SBN. Semakin besar skor CDS, maka risiko berinvestasi di SBN juga semakin tinggi. Sebaliknya jika skor semakin kecil, maka risiko investasinya juga semakin rendah.

    Banjirnya aliran dana asing di pasar keuangan domestik membuat nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada pembukaan perdagangan hari ini mengalami penguatan. Dari Rp14.370 per USD pada penutupan perdagangan Kamis, 5 November 2020 menjadi Rp14.250 per USD per Jumat pagi, 6 November 2020.

    Hingga menjelang penutupan perdagangan akhir pekan ini, rupiah masih menunjukkan tajinya terhadap dolar. Mengutip data Bloomberg, nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.224 per USD, menguat 156 poin atau setara 1,08 persen dibandingkan penutupan perdagangan hari sebelumnya di level Rp14.380 per USD.

    Menukil data Yahoo Finance, rupiah juga berada di jalur hijau pada posisi Rp14.235 per USD. Rupiah menguat signifikan sebanyak 199 poin atau setara 1,38 persen dari Rp14.435 per USD di penutupan perdagangan hari sebelumnya.

    Sedangkan berdasarkan data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dolar Rate (Jisdor), rupiah diperdagangkan di level Rp14.321 per USD atau menguat sebanyak 118 poin dari nilai tukar rupiah pada perdagangan hari sebelumnya sebesar Rp14.439 per USD.

    Bank Indonesia, tegas Onny, akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait untuk memonitor secara cermat dinamika penyebaran covid-19 dan dampaknya terhadap perekonomian Indonesia dari waktu ke waktu.

    "Serta langkah-langkah koordinasi kebijakan lanjutan yang perlu ditempuh untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, serta menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap baik dan berdaya tahan," tutup Onny.

    (Des)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id