BSI Bakal Jadi Lokomotif Pertumbuhan Perbankan Syariah RI

    Eko Nordiansyah - 10 Mei 2021 12:09 WIB
    BSI Bakal Jadi Lokomotif Pertumbuhan Perbankan Syariah RI
    Bank Syariah Indonesia. Foto: MI/Andri Widianto



    Jakarta: Pemerintah resmi melakukan merger tiga bank syariah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yaitu Bank Syariah Mandiri, BRI Syariah, dan BNI Syariah menjadi Bank Syariah Indonesia (BSI) mulai Februari 2021 lalu. Penggabungan ini diharapkan mampu mendorong pertumbuhan perbankan syariah.

    Analis Kebijakan Madya Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Mochamad Imron menilai, merger ini akan menjadi lokomotif pertumbuhan di perbankan syariah nasional. Meskipun saat ini, pangsa pasar dari hasil merger ini masih kecil dibandingkan nasional.

     



    "Jadi, kalau banknya bagus, maka akan merembet ke sektor lain di keuangan syariah. Walaupun market-nya sekarang baru enam persen, kita harapkan ke depan bisa lebih terdorong pertumbuhannya," kata dia dilansir dari laman resmi Kemenkeu, Senin, 10 Mei 2021.

    Imron mengatakan bahwa sebelum dilakukan merger, di Indonesia terdapat setidaknya 12 bank syariah, 20 unit usaha syariah, dan 160-an Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS). Dengan adanya bank yang lebih besar, maka diharapkan akan lebih efisien dan dapat membiayai banyak industri untuk berkembang.

    "Perbankan syariah memiliki kaitan erat dengan sektor riil. Transaksi keuangan syariah tidak terjadi kecuali memiliki underlying asset. Oleh sebab itu, penguatan perbankan syariah diperkirakan akan mampu turut menggerakkan sektor riil, khususnya produk halal," ungkapnya.

    Dengan kapitalisasi pasar yang semakin kuat, Direktur Jasa Keuangan Syariah Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) Taufik Hidayat menyatakan, Bank Syariah Indonesia (BSI) ditargetkan masuk 10 besar bank syariah terbesar dunia dalam waktu lima tahun sejak dilakukannya merger.

    “Melalui permodalan yang lebih besar, BSI akan lebih leluasa melakukan ekspansi bisnis dan memperluas jangkauan layanan keuangan syariah mulai dari segmen UMKM, ritel, hingga korporasi dalam skala besar," ujar dia.

    Kebijakan merger bank syariah sendiri selaras dengan Masterplan Ekonomi dan Keuangan Syariah Indonesia (MEKSI) 2019-2024. Direktur Eksekutif KNEKS Ventje Rahardjo menyebut, masih ada beberapa kegiatan yang diharapkan mendorong pengembangan industri dan keuangan syariah di Indonesia.

    "Beberapa kegiatan yang dimasukkan di dalam MEKSI itu adalah pengembangan industri halal, industri produk halal, kemudian terus melakukan pengembangan jasa keuangan syariah, dan juga mendorong munculnya kegiatan jasa keuangan sosial syariah yang diharapkan semakin hari semakin besar," pungkasnya.

    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id