Kurs Rupiah Masih akan Berfluktuatif

    Husen Miftahudin - 15 Februari 2021 07:46 WIB
    Kurs Rupiah Masih akan Berfluktuatif
    Foto: AFP.


    Jakarta: Pergerakan kurs rupiah pada hari ini masih akan berfluktuatif. Kendati masih ada peluang untuk menguat tipis.

    "Untuk perdagangan minggu depan, tepatnya Senin, mata uang rupiah masih berfluktuatif walaupun akhirnya ditutup menguat tipis di rentang Rp13.950 per USD sampai Rp13.990 per USD," ujar Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi dalam hasil risetnya yang diterima Medcom.id, Senin, 15 Februari 2021.


    Ibrahim sebelumnya menilai penguatan nilai tukar rupiah pada akhir perdagangan Kamis, 11 Februari 2021 didorong sentimen positif dari faktor eksternal. Sejumlah faktor tersebut utamanya terkait dengan kenaikan moderat pada harga konsumen di Amerika Serikat (AS) pada Januari 2021.

    "Harga bensin yang lebih tinggi dipengaruhi oleh tarif penerbangan yang lebih rendah karena covid-19 terus berdampak pada industri penerbangan, yang pada gilirannya menurunkan ekspektasi akselerasi inflasi yang berkelanjutan pada 2021,"  ujar dia.

    Dia menekankan inflasi tetap menjadi perhatian, dengan prediksi permintaan yang terpendam dan efek basis rendah dari guncangan 2020 akan mendorong lonjakan angka berita utama pada musim semi. Skenario seperti itu dapat menguji tekad Fed.

    Ketua Federal Reserve Jerome Powell juga memperingatkan pasar kerja AS yang masih jauh dari pemulihan penuh. Ia juga menyerukan upaya nasional yang luas untuk membuat warga AS kembali bekerja pascapandemi.

    Powell juga mencatat bahwa pengangguran masih tinggi. Untuk mengulanginya, bank sentral merancang kerangka kebijakan baru yang dapat mengakomodasi inflasi tahunan di atas dua persen untuk beberapa waktu sebelum menaikkan suku bunga.

    "Kebijakan tersebut akan bertahan dalam waktu yang sangat lama, dan itu akan berdampak negatif bagi dolar AS. Hal itu juga menjadi latar belakang bahwa dolar AS tidak dapat naik sementara," jelasnya.

    Faktor positif internal juga didorong langkah Bank Indonesia (BI) yang kemungkinan akan menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 bps menjadi 3,5 persen untuk periode Februari 2021. Ini didukung kinerja pertumbuhan ekonomi 2020 yang mengecewakan dan perlunya upaya ekstra untuk mendorong pertumbuhan ekonomi untuk 2021.

    "Salah satu caranya dengan menurunkan suku bunga acuan. Saat suku bunga rendah, maka pengusaha dan rumah tangga akan terangsang untuk mengambil kredit sehingga akan menjadi motor pertumbuhan ekonomi," tutur Ibrahim.

    Selain itu, nilai tukar rupiah saat ini relatif stabil bahkan cenderung menguat. Oleh karena itu apabila Bank Indonesia menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 bps menjadi 3,5 persen, itu sangat dimungkinkan karena pertumbuhan ekonomi perlu ada pendorong yang pasti, terutama dari otoritas Bank Indonesia di tengah risiko kasus covid-19 yang masih tinggi sehingga bisa mengganggu normalisasi ekonomi.

    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id