Hati-Hati! IHSG Rawan Tertekan

    Angga Bratadharma - 23 Februari 2021 09:44 WIB
    Hati-Hati! IHSG Rawan Tertekan
    Ilustrasi. FOTO: Dok MI/PANCA SYURKANI
    Jakarta: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan hari ini diperkirakan tertekan lantaran minim sentimen positif. Investor diharap waspada dan tetap berhati-hati karena belum ada sinyal IHSG berbalik arah ke zona hijau meski program vaksinasi covid-19 terus digencarkan pemerintah.

    "Minim sentimen, IHSG diperkirakan rawan tertekan. Hari ini indeks Nikkei libur memperingati Emperor’s Birthday, sementara pagi ini indeks Kospi dibuka dan diperdagangkan di zona negatif 0,9 persen," ungkap Samuel Research Team, dalam riset hariannya, Selasa, 23 Februari 2021.

    Sementara itu, kasus baru covid-19 dalam negeri pada Senin diumukan sebanyak 10.180 kasus (pada Minggu tercatat ada 7.300 kasus) dengan kesembuhan 9.918 kasus sehingga kasus ditutup mencapai 87,8 persen. Hingga kini Indonesia telah mencatat total kasus covid-19 mencapai 1,288 juta.

    Di sisi lain, bursa saham Amerika Serikat berakhir bervariasi pada akhir perdagangan Senin waktu setempat (Selasa WIB) di tengah kemunduran sektor teknologi. Investor tetap berhati-hati di pasar saham saat program vaksinasi terus digencarkan dan di tengah naiknya imbal hasil obligasi Pemerintah AS.

    Indeks Dow Jones Industrial Average naik 27,37 poin atau 0,09 persen menjadi 31.521,69. Indeks S&P 500 merosot 30,21 poin atau 0,77 persen menjadi 3.876,50. Indeks Komposit Nasdaq merosot 341,41 poin atau 2,46 persen menjadi 13.533,05.

    Sebanyak enam dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir di zona hijau, dengan sektor energi menguat sebanyak 3,47 persen, memimpin kenaikan. Sedangkan sektor teknologi tertekan sebanyak 2,26 persen, menjadi yang paling lemah.

    Perusahaan Tiongkok yang terdaftar di AS sebagian besar diperdagangkan lebih rendah. Sembilan dari 10 saham teratas berdasarkan bobot dalam indeks Tiongkok 50 yang terdaftar di S&P AS mengakhiri hari dengan catatan suram.

    Pergerakan pasar ini terjadi karena kenaikan imbal hasil obligasi memicu kekhawatiran bahwa pasar saham, terutama saham teknologi melambung ke level tertinggi dan menjadi terlalu mahal. Imbal hasil pada obligasi Pemerintah AS 10-tahun naik menjadi 1,36 persen pada Senin, setelah melompat ke level tertinggi sejak Februari 2020 pekan lalu.

    Untuk pekan yang berakhir Jumat, pasar saham AS membukukan hasil beragam karena Wall Street menilai kemungkinan stimulus fiskal lebih lanjut, sambil memilah-milah banyak data ekonomi. Dow mencatat kenaikan mingguan 0,1 persen, sedangkan S&P 500 dan Nasdaq Composite turun masing-masing 0,7 persen dan 1,6 persen.

    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id