OJK dan SRO Jaga Pasar Saham dari Pandemi Korona

    Husen Miftahudin - 23 Maret 2020 10:50 WIB
    OJK dan SRO Jaga Pasar Saham dari Pandemi Korona
    Ilustrasi. Dok.MI
    Jakarta: Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan akan terus memantau perkembangan pasar dan meninjau serangkaian kebijakan. Upaya ini untuk menjaga keberlangsungan pasar modal di tengah volatilitas pasar yang dipenuhi ketidakpastian akibat pandemi virus korona atau covid-19.

    Langkah tersebut dilakukan OJK bersama Self-Regulatory Organization (SRO) pasar modal Indonesia yang terdiri dari PT Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Klliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).

    "OJK dan SRO juga akan terus mengupayakan keberlangsungan aktivitas perdagangan bursa efek yang teratur, wajar, efisien, dan layanan pasar modal kepada seluruh stakeholders," kata Deputi Komisioner Humas dan Logistik, Anto Prabowo OJK dalam keterangan tertulis, Jakarta, Senin, 23 Maret 2020.

    Untuk mencapai hal tersebut, jelasnya, OJK bersama SRO pasar modal telah melaksanakan Business Continuity Management (BCM) untuk menjamin kelangsungan operasional kegiatan di pasar modal dengan serangkaian aktivitas. Pertama, pembagian area kerja (split operation) ke beberapa lokasi kerja.

    Kedua, pelaksanaan bekerja dari rumah atau Work from Home (WfH) dengan tetap memperhatikan keberlangsungan layanan kepada stakeholders. Kemudian membatasi kegiatan-kegiatan, seperti sosialisasi, rapat, dan kegiatan lain yang memerlukan interaksi dengan orang banyak dengan menggunakan fasilitas elektronik.

    "Terakhir, memastikan lingkungan kerja yang sehat dan memastikan kesehatan karyawan," tegasnya.

    Selain melaksanakan BCM, sejumlah stimulus juga telah diberikan OJK dan SRO kepada stakeholders pasar modal untuk memberikan kepastian hukum dalam menghadapi situasi saat ini, di antaranya adalah:

    1. Pembelian kembali (buyback) saham oleh emiten atau perusahaan publik tanpa terlebih dahulu memperoleh persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) dan jumlah maksimum saham hasil pembelian kembali (treasury stock) ditingkatkan dari 10 persen menjadi 20 persen dari modal disetor.

    2. Perpanjangan batas waktu penyampaian laporan keuangan tahunan 2019, laporan tahunan bagi emiten dan perusahaan publik, termasuk perusahaan tercatat, yaitu selama dua bulan dari batas waktu penyampaian.

    3. Perpanjangan batas waktu penyampaian laporan keuangan interim I-2020 bagi perusahaan tercatat selama dua bulan dari batas waktu penyampaian laporan sebagaimana dimaksud dalam Peraturan BEI. Sehubungan dengan perpanjangan batas waktu tersebut, maka Bursa akan menyesuaikan pengenaan notasi khusus "L" pada kode perusahaan tercatat.

    4. Perpanjangan batas waktu penyelenggaraan RUPS Tahunan oleh emiten dan perusahaan publik selama dua bulan.

    5. Penyelenggaraan RUPS oleh perusahaan terbuka dapat dilakukan dengan memanfaatkan fasilitas electronic proxy pada sistem e-RUPS.

    6. Perubahan batasan auto rejection pada peraturan perdagangan di Bursa Efek.

    7. Pelarangan transaksi short selling bagi semua anggota bursa mulai 2 Maret 2020 sampai dengan batas waktu yang ditetapkan OJK.

    8. Pelaksanaan trading halt selama 30 menit dalam hal IHSG mengalami penurunan mencapai lima persen.

    9. Penyesuaian nilai haircut dan perhitungan risiko (risk charge) untuk stimulasi pasar.



    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id