Bangkit di New Normal, Perbankan Dihadang Tantangan dan Peluang Baru

    Angga Bratadharma - 20 November 2020 08:45 WIB
    Bangkit di New Normal, Perbankan Dihadang Tantangan dan Peluang Baru
    Ilustrasi. FOTO: Medcom.id
    Jakarta: Sektor perbankan di Tanah Air memiliki tantangan dan peluang baru agar mampu bertahan dan bangkit kembali di era new normal. Kondisi itu muncul usai perekonomian global termasuk ekonomi Indonesia terhantam oleh pandemi covid-19 dan ujungnya memicu terjadinya krisis.

    EVP Distribution Strategy Bank Mandiri dan Presiden Komisaris AXA Mandiri Agus Haryoto Widodo mengatakan pandemi covid-19 telah mengubah arah perekonomian dan aspek kehidupan masyarakat meliputi aspek sosial yakni berhentinya aktivitas ekonomi yang menyerap tenaga kerja di berbagai sektor riil.

    Kemudian di aspek keuangan yaitu menurunnya kinerja sektor riil dengan profitabilitas dan solvabilitas perusahaan ikut menurun. Lalu pada aspek ekonomi yakni kinerja ekonomi menurun tajam, konsumsi terganggu, investasi terhambat, serta kinerja ekspor dan impor melambat.

    "(Tantangan dan peluang lainnya) wave of digital disruption. Serbuan digital payment, fintech and insurtech yang menyediakan layanan dan produk finansial dalam platform yang terintegrasi," kata Agus, saat webinar bertajuk 'Ekspektasi Dunia Usaha dan Perbankan terhadap Industri Asuransi', Kamis, 19 November 2020.

    Tantangan dan peluang industri perbankan di new normal lainnya yakni perubahan behavior, preferensi dan interest consumer. Kemudian culture, resources & talent dianggap sebagai tantangan terbesar dan barrier untuk scaling digital initiatives. Lalu financial penetration & literacy.

    "Masih rendahnya angka indeks penetrasi dan literasi masyarakat Indonesia terhadap produk dan layanan finansial," kata Agus.

    Di sisi lain, ia mengatakan, indeks literasi dan inklusi keuangan terus meningkat namun belum maksimal. Ini menunjukkan masih terdapat ruang untuk tumbuh bagi para pelaku industri jasa keuangan di Indonesia. Indeks literasi perasuransian pada 2016 tercatat 15,76 persen dan indeks inklusi perasuransi di angka 12,08 persen.

    Di 2024, indeks literasi dan inklusi keuangan ditargetkan di angka 90,0 persen. "Masih besarnya selisih dalam pertumbuhan indeks literasi dan inklusi keuangan menjadi peluang bagi lembaga keuangan dalam melakukan ekspansi bisnis," pungkasnya.

    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id