OJK: Industri Asuransi Sumbang Defisit NPI Rp9,2 Triliun

    Husen Miftahudin - 24 September 2020 17:47 WIB
    OJK: Industri Asuransi Sumbang Defisit NPI Rp9,2 Triliun
    OJK menyebutkan industri asuransi dan dana pensiun turut menyumbang defisit terhadap neraca pembayaran transaksi berjalan. Foto: Dok.MI
    Jakarta: Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non Bank (IKNB) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Riswinandi menyebutkan industri asuransi dan dana pensiun sepanjang 2019 turut menyumbang defisit terhadap neraca pembayaran transaksi berjalan. Defisit jasa asuransi dan dana pensiun pada waktu itu nilainya mencapai Rp9,2 triliun.

    "Defisit tersebut ekuivalen dengan nilai outflow transaksi reasuransi ke luar negeri yang mencapai Rp11,2 triliun atau jauh lebih besar dibandingkan dengan nilai inflow transaksi reasuransi dari luar negeri ke dalam negeri yang hanya sebesar Rp1,9 triliun," ujar Riswinandi dalam seminar virtual Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), Kamis, 24 September 2020.

    Berdasarkan data Bank Indonesia, laporan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) Transaksi Berjalan Jasa-Jasa untuk realisasi pada 2019 menunjukkan bahwa pada periode tersebut nilai ekspor jasa di bidang asuransi dan dana pensiun mencapai USD167 juta atau setara Rp2,17 triliun (kurs Rp13 ribu per USD).

    Namun demikian, realisasi impor jasa sektor tersebut mencapai USD875 juta (Rp11,37 triliun). Sehingga secara perdagangan, sektor jasa asuransi dan dana pensiun RI sepanjang 2019 terjadi defisit sebanyak USD709 juta atau setara Rp9,2 triliun.

    Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, defisit jasa asuransi dan dana pensiun 2019 jauh lebih lebar. Pada 2018 bidang asuransi dan dana pensiun mengalami defisit sebanyak USD567 juta, dengan total ekspor sebesar USD161 juta dan impor senilai USD728 juta.

    "Besaran defisit (transaksi berjalan) sampai USD30,6 miliar (sepanjang 2019) di dalamnya memang tidak bisa lepas dari kontribusi asuransi. Karena kita tahu bahwa kegiatan asuransi ini juga melibatkan kesempatan bukan hanya bagi asuransi di dalam negeri, tapi juga asuransi di luar negeri khususnya untuk barang-barang khusus dan reasuransi," paparnya.

    Menurutnya, kondisi tersebut terjadi seiring dengan meningkatnya sentimen negatif. Alhasil juga ikut mempengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah yang kemudian juga berpotensi menimbulkan efek negatif lanjutan terhadap stabilitas perekonomian Indonesia.



    • Halaman :
    • 1
    • 2
    Read All




    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id