Maria Pauline Gerogoti BNI dari Dalam

    Husen Miftahudin - 09 Juli 2020 17:44 WIB
    Maria Pauline Gerogoti BNI dari Dalam
    Tersangka kasus pembobolan BNI, Maria Pauline Lumowa, berhasil diekstradisi dari Serbia ke pemerintah Indonesia setelah 17 tahun buron. ANT Aditya Pradana Putra
    Jakarta: 'Orang dalam' berperan besar pada kasus pembobolan BNI. Alih-alih untung karena memberikan jaminan surat kredit atau Letter of Credit (L/C) kepada PT Gramarindo Group, bank pelat merah tersebut justru kebobolan senilai Rp1,7 triliun.

    Mengutip Peraturan Bank Indonesia (PBI) Nomor: 5/11/PBI/2003 tentang Pembayaran Transaksi Impor, penerbitan dan pencairan L/C bukan perkara mudah. Terdapat sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi pemohon.

    Dalam kasus ini, bank diwajibkan untuk melakukan hubungan koresponden dengan bank-bank di luar negeri. Bank koresponden ialah bank yang berdasarkan suatu perjanjian mempunyai hubungan dengan bank lain untuk saling memberikan jasa dan/atau melakukan transaksi untuk dan atas nama bank yang berkepentingan.

    "Hubungan koresponden yang dimaksud didasarkan pada kesepakatan antara pihak bank dengan pihak lainnya," jelas dokumen tersebut yang dikutip Medcom.id, Kamis, 9 Juli 2020.

    Permasalahannya, di kasus ini tidak ada importir yang jadi pembeli barang dari Gramarindo Group. Selain itu, penunjukan empat bank korespondensi yang dipilih Gramarindo Group bukan rekanan BNI dalam penerbitan L/C.

    Namun, BNI tetap menyetujui jaminan L/C untuk kegiatan eksportir. Keempat bank tersebut ialah Dubai Bank Kenya Ltd., Rosbank Switzerland, Middle East Bank Kenya Ltd., dan The Wall Street Banking Corp.

    Adanya orang dalam pada kasus pembobolan Rp1,7 triliun BNI juga disampaikan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham) Yasonna H Laoly. "Karena BNI tetap memberikan jaminan Letter of Credit (L/C)," kata Yasonna dalam keterangan pers.

    Ihwal kasus ini bermula ketika PT Gramarindo Group milik Maria Pauline Lumowa dan Adrian Waworuntu mengajukan pinjaman uang kepada Bank BNI cabang Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Bank BNI mengucurkan pinjaman senilai USD136 juta dan EUR56 juta atau setara dengan Rp1,7 triliun (dengan kurs saat itu) pada periode Oktober 2002-Juli 2003.

    Pada Juni 2003, pihak BNI yang curiga dengan transaksi keuangan PT Gramarindo Group mulai melakukan penyelidikan dan mendapati perusahaan tersebut tak pernah melakukan ekspor.

    Dugaan L/C fiktif ini kemudian dilaporkan ke Polri, namun Maria sudah lebih dahulu terbang ke Singapura pada September 2003 alias sebulan sebelum ditetapkan sebagai tersangka oleh tim khusus yang dibentuk Mabes Polri.

    Maria kemudian buron selama 17 tahun, hingga akhirnya jejak Maria yang kini berstatus sebagai warga negara Belanda itu terendus di Serbia. Maria ditangkap oleh NCB Interpol Serbia pada 16 Juli 2019 di Bandara Internasional Nikola Tesla, Beograd, Serbia.

    Kemudian, Pemerintah Indonesia menerbitkan surat permintaan penahanan sementara. Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum Kemenkumham mengajukan permohonan ekstradisi ke otoritas Serbia.

    "Dengan selesainya proses ekstradisi ini, berarti berakhir pula perjalanan panjang 17 tahun upaya pengejaran terhadap buronan bernama Maria," ucap Yasonna.

    Maria tiba di Indonesia, Kamis, 9 Juli 2020. Maria akan menghadapi proses hukum atas dugaan melakukan pelanggaran terhadap Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi dengan ancaman pidana maksimal seumur hidup.
     

    (DEV)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id