comscore

Cari Peluang Pertumbuhan di ASEAN, Survei Stanchart: RI Peringkat ke-2 Pilihan Perusahaan AS

Angga Bratadharma - 22 September 2021 16:41 WIB
Cari Peluang Pertumbuhan di ASEAN, Survei Stanchart: RI Peringkat ke-2 Pilihan Perusahaan AS
Ilustrasi. FOTO: ISAAC LAWRENCE/AFP
Jakarta: Survei Standard Chartered (Stanchart) mengungkapkan Indonesia berada di peringkat kedua sebagai negara pilihan utama untuk ekspansi perusahaan Amerika Serikat (AS) dalam mencari peluang pertumbuhan di kawasan ASEAN. Survei itu dituangkan dalam 'Borderless Business: US-ASEAN Corridor'.

Survei tersebut merupakan laporan strategis yang mengamati peluang besar untuk pertumbuhan lintas batas di koridor perdagangan antara AS dan negara-negara di ASEAN. Mayoritas perusahaan AS juga mengharapkan pertumbuhan bisnis yang kuat di wilayah ini dalam kurun waktu hingga 12 bulan ke depan.
"Dengan 93 persen responden mengharapkan peningkatan pendapatan dan 86 persen berharap adanya ekspansi produksi," ungkap survei tersebut, dikutip dalam keterangan tertulis Stanchart, Rabu, 22 September 2021.

Survei mengungkapkan bahwa para eksekutif perusahaan AS berfokus pada ekspansi untuk menangkap peluang penjualan dan produksi di Singapura (58 persen), Indonesia (45 persen), Thailand (43 persen), Filipina (38 persen), Malaysia, dan Vietnam (keduanya sebesar 35 persen).

Dengan populasi yang diproyeksikan meningkat menjadi 723 juta pada 2030 dan 67 persen di antaranya diperkirakan berada di kelas menengah, ASEAN akan terus menjadi pasar yang menarik bagi perusahaan-perusahaan AS.

"Penduduk Indonesia yang saat ini jumlahnya lebih dari 270 juta orang tetap menjadi daya tarik terkuat bagi perusahaan AS untuk memperluas basis konsumen dan produksi mereka di kawasan ASEAN," sebut survei tersebut.

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mengumumkan realisasi investasi April-Juni 2021 mencapai Rp223,0 triliun dan total data realisasi investasi Januari-Juni 2021 mencapai Rp442,8 triliun. Penanaman modal asing langsung pada triwulan II-2021 meningkat 19,6 persen dibandingkan dengan triwulan yang sama di 2020, dan naik 4,5 persen dari triwulan I-2021.

"Amerika Serikat masih menjadi salah satu dari 10 negara dengan sumber investasi terbesar bagi Indonesia," ungkap data BKPM.

Selain potensi peningkatan permintaan untuk barang-barang berkualitas lebih tinggi, akses ke sumber daya manusia ASEAN yang kuat dengan kecakapan tinggi dalam bahasa Inggris juga memberikan daya tarik yang kuat bagi perusahaan-perusahaan AS yang ingin memanfaatkan tenaga kerja di kawasan ini.

Menurut eksekutif senior perusahaan AS yang disurvei, akses ke pasar konsumen ASEAN yang besar dan berkembang (70 persen), ketersediaan tenaga kerja yang terampil dan dalm jumlah besar (53 persen), serta diversifikasi jejak produksi (40 persen) adalah sejumlah pendorong penting untuk ekspansi ke kawasan ini.

Selain itu, hampir separuh (43 persen) responden mengindikasikan bahwa mereka berencana untuk meningkatkan investasi di ASEAN selama 3-5 tahun ke depan untuk memanfaatkan peluang yang akan dibawa oleh ratifikasi perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (Regional Comprehensive Economic Partnership/RCEP).

Terlepas dari optimisme mereka, para eksekutif AS yang disurvei mengakui adanya risiko di ASEAN yang harus dimitigasi. Tiga risiko teratas yang teridentifikasi adalah ketidakpastian geopolitik dan konflik perdagangan (73 persen), pemulihan ekonomi yang lambat dan penurunan minat belanja konsumen (65 persen), serta pandemi covid-19 atau krisis kesehatan lainnya yang sedang berlangsung (63 persen).

Untuk mendorong pertumbuhan yang tangguh dan seimbang di ASEAN serta untuk mengurangi risiko-risiko dan tantangan-tantangan tersebut, para eksekutif yang disurvei mengidentifikasi beberapa area terpenting yang dapat menjadi fokus perusahaan mereka.

Hal itu seperti membentuk perusahaan patungan baru untuk meningkatkan kehadiran pasar (68 persen), berinvestasi dalam kepemimpinan dan pengembangan bakat (53 persen), serta melaksanakan program transformasi digital (48 persen).

Untuk mendukung pertumbuhan mereka, perusahaan-perusahaan tersebut mengatakan bahwa mereka mencari mitra perbankan yang menawarkan layanan pembiayaan korporasi dan penggalangan modal satu atap (50 persen), lindung nilai valuta asing dan layanan penyelesaian dalam berbagai mata uang (multicurrency settlement) (48 persen), serta jaringan lintas batas dan pemahaman pasar lokal yang komprehensif (48 persen).


(ABD)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id