comscore

Jelang Pengumuman Rapat The Fed, Rupiah Kembali Tak Berdaya

Husen Miftahudin - 15 Juni 2022 16:55 WIB
Jelang Pengumuman Rapat The Fed, Rupiah Kembali Tak Berdaya
Ilustrasi mata uang rupiah - - Foto: AFP/ Bay Ismoyo.
Jakarta: Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali tak berdaya menjelang hasil pertemuan kebijakan Federal Reserve. Para pelaku pasar keuangan sendiri memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin, sebagai upaya untuk mengendalikan inflasi yang merajalela.
 
"Harga pasar menunjukkan peluang 95 persen dari kenaikan suku bunga 75 basis poin pada pertemuan Fed," ucap analis pasar uang Ibrahim Assuaibi dalam analisis hariannya, Rabu, 15 Juni 2022.
 
Ibrahim menjelaskan, kenaikan tajam dalam ekspektasi mengikuti laporan media. Pertama oleh Wall Street Journal yang melaporkan kenaikan suku bunga yang lebih besar akan terjadi setelah data yang dirilis minggu lalu menunjukkan bahwa indeks harga konsumen AS melonjak 8,6 persen per akhir Mei, menjadi kenaikan secara tahunan yang terbesar dalam empat dekade.
 
"Dolar AS telah menguat dalam beberapa bulan terakhir berkat kenaikan suku bunga The Fed dan terus mengalami kenaikan dalam beberapa pekan terakhir. Ini karena investor mencari tempat berlindung yang aman karena khawatir akan dampak ekonomi dari pengetatan kondisi keuangan yang cepat," tuturnya.
 
Tetapi, menurut Ibrahim, dengan perkiraan kenaikan suku bunga yang, dolar mungkin berjuang untuk mendapatkan katalis lebih lanjut pascakeputusan Fed. "Ini mengingat harga pasar agresif, sehingga ada risiko (Komite Pasar Terbuka Federal) dianggap 'tidak cukup hawkish'," jelas dia.
 
Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) memperkirakan inflasi yang diukur atas Indeks Harga Konsumen (IHK) pada 2022 akan meningkat hingga mencapai 4,2 persen. Kondisi tersebut menjadi cerminan koordinasi fiskal dan moneter yang sangat kuat.
 
"Dimana fiskal meningkatkan subsidi sehingga tidak semua kenaikan harga energi dan komoditas dunia berdampak kepada inflasi dalam negeri dan BI ikut berpartisipasi dalam pembiayaan anggaran negara untuk tahun ini," terangnya.
 
Koordinasi tersebut dinilai berhasil menahan dampak dari kenaikan harga komoditas yang tinggi, baik harga energi maupun harga pangan dunia terhadap inflasi di Tanah Air. Kondisi Indonesia, lanjutnya, tentunya berbeda dengan negara-negara lain yang kini sedang mengalami lonjakan inflasi yang tinggi hingga mencapai dua digit.
 
"Selain itu, langkah pemerintah dalam meningkatkan subsidi khususnya premium, diesel, listrik, LPG, dan meningkatkan bantuan sosial sangat membantu menyikapi kenaikan harga energi dan pangan dunia," papar Ibrahim.
 
Mengutip data Bloomberg pada penutupan perdagangan hari ini, nilai tukar rupiah terhadap USD melemah ke level Rp14.745 per USD. Mata uang Garuda tersebut melemah 46 poin atau setara 0,31 persen dari posisi Rp14.699 per USD pada penutupan perdagangan hari sebelumnya.
 
Data Yahoo Finance juga menunjukkan bahwa rupiah berada di zona merah pada posisi Rp14.745 per USD. Rupiah melemah 20 poin atau setara 0,14 persen dari Rp14.725 per USD di penutupan perdagangan hari sebelumnya.
 
Sedangkan berdasar pada data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dolar Rate (Jisdor), rupiah berada di level Rp14.746 per USD atau turun 77 poin dari perdagangan di hari sebelumnya sebesar Rp14.729 per USD.
 
"Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah kemungkinan dibuka berfluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp14.420 per USD hingga Rp14.800 per USD," pungkas Ibrahim.

(HUS)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id