comscore

Subsidi Dijaga Redam Tekanan Pasar Obligasi

Media Indonesia - 22 Juni 2022 11:05 WIB
Subsidi Dijaga Redam Tekanan Pasar Obligasi
Ilustrasi. Foto: AFP/Bay Ismoyo.
TEKANAN terhadap pasar obligasi Indonesia berangsur berkurang. Hal ini didukung oleh faktor domestik dan eksternal yang berpengaruh pada kondisi pasar surat utang Indonesia. Saat ini, tekanan di pasar obligasi dinilai sudah berkurang.

Kepala ekonom dan ahli strategi investasi PT Manulife Aset Manajemen Indonesia Katarina Setiawan mengatakan, dari sisi domestik, tekanan inflasi diperkirakan lebih terjaga dari ekspektasi pasar sebelumnya didukung keputusan pemerintah untuk menjaga harga BBM pertalite dan tarif listrik bersubsidi.
Pendapatan pemerintah yang meningkat dari sektor komoditas juga membawa angin positif bagi APBN karena bisa membiayai naiknya subsidi dan mengurangi penerbitan surat berharga negara (SBN).

"Selain itu, dengan tingkat inflasi yang lebih terjaga maka kenaikan suku bunga Bank Indonesia juga dapat menjadi lebih konservatif jika dibandingkan dengan perkiraan pasar sebelumnya," tutur Katarina.

Adapun dari sisi eksternal, dia melihat adanya kemungkinan The Fed beranjak lebih dovish seiring dengan outlook ekonomi AS yang melemah dan tekanan inflasi yang mereda. Perubahan postur The Fed yang lebih dovish dinilai dapat menjadi katalis bagi pasar obligasi.

Sementara secara global, pelemahan pasar dibayangi oleh komentar dari The Fed yang menekankan komitmennya untuk menanggulangi inflasi dan mempertahankan arah kenaikan suku bunga agresif. Ketidakpastian pasar juga meningkat terhadap outlook pertumbuhan ekonomi AS karena kenaikan suku bunga yang agresif dikhawatirkan dapat memicu resesi ekonomi.

Selain itu, pasar juga dibayangi oleh lockdown di Tiongkok karena meningkatnya kasus covid-19 dan kebijakan zero covid pemerintah Negeri Tirai Bambu. "Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran gangguan rantai pasokan dunia karena peranan penting Tiongkok dalam produksi global dan dampaknya terhadap inflasi dunia," pungkas Katarina.

IHSG menguat

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) kemarin ditutup menguat mengikuti kenaikan bursa saham kawasan Asia. IHSG ditutup menguat 67,69 poin atau 0,97 persen ke posisi 7.044,07. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 11,25 poin atau 1,12 persen ke posisi 1.018,04.

"IHSG dan pasar saham regional Asia secara bersama di akhir perdagangan menguat. Hal ini tampaknya didorong oleh ekspektasi kebijakan Tiongkok lebih akomodatif untuk membantu mendukung pemulihan ekonomi negara itu dari dampak lockdown pandemi covid-19," tulis Tim Riset Pilarmas Investindo Sekuritas dalam kajiannya.

Seperti juga IHSG, mata uang rupiah juga menguat. Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan mata uang rupiah menguat 23 poin di level Rp14.812 dari penutupan sebelumnya Rp14.836.

Penguatan rupiah, ungkap Ibrahim, disebabkan adanya apresiasi pelaku pasar atas kinerja pemerintah tentang utang luar negeri yang menyusut di tengah banyak negara diambang kebangkrutan akibat konflik Rusia-Ukraina yang berkepanjangan.

(AHL)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id