Ini Kunci Akselerasi Pembangunan Infrastruktur Pascapandemi

    Antara - 17 April 2021 21:55 WIB
    Ini Kunci Akselerasi Pembangunan Infrastruktur Pascapandemi
    Foto: dok MI/Ramdani.



    Jakarta: Tren penurunan pandemi covid-19 memasuki 2021 ditandai dengan semakin pesatnya perputaran perekonomian, tak terkecuali pembangunan infrastruktur di seluruh penjuru Tanah Air.

    Data Construction Market Outlook 2021 mencatat pasar konstruksi akan mulai bangkit pada pertengahan 2021, dengan total nilai diproyeksikan mencapai Rp196,8 triliun. Selain itu, Pemerintah Indonesia pun telah mengalokasikan Rp414 triliun untuk berbagai proyek infrastruktur, khususnya untuk pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dan sektor pariwisata.






    Peta jalan menuju kebangkitan ekonomi Indonesia pascapandemi lewat sektor konstruksi ini dinilai wajib diiringi oleh dukungan penjaminan dari sektor asuransi.

    Fire and Engineering Underwriter Indonesia Re Maesha Gusti Rianta mengatakan, sebuah proyek infrastruktur dinilai layak mendapatkan pendanaan apabila proyek tersebut telah mendapatkan penjaminan dari asuransi (Contractor's All Risk/CAR). Dengan kata lain, eksposur asuransi proyek tersebut telah secara komprehensif dieksplorasi dan dipahami oleh pihak asuransi dan pihak pemilik proyek.

    "(CAR) menyediakan perlindungan menyeluruh baik terhadap kerusakan properti maupun kecelakaan kerja yang terjadi selama proses konstruksi berlangsung. Jadi, proyek bisa terus berjalan walaupun satu atau dua hal tersebut terjadi," ujar Maesha, dilansir dari Antara, Sabtu, 17 April 2021.

    Terdapat lima aspek esensial dalam mengkaji profil risiko sebuah proyek, yakni underwriter harus memahami betul seluk beluk risiko teknis dari proyek itu, mengetahui kredibilitas kontraktor, mengetahui potensi kebencanaan dari lokasi proyek itu berada, menganalisa timeline dan rencana anggaran proyek, dan menetapkan rencana darurat.

    Lebih lanjut, Maesha mencatat terdapat setidaknya empat jenis kategori proyek konstruksi dengan tingkat risiko yang berbeda-beda. Yang pertama, wet risk atau bangunan yang langsung kontak dengan air, dengan tingkat risiko sangat tinggi atau total loss. Kedua, gedung bertingkat dengan risiko kerusakan yang umumnya berasal dari ketidaksempurnaan arsitektur/desain.

    Ketiga, hunian yang risiko umumnya adalah banjir dan gempa bumi. Terakhir, jalan raya, dengan risiko berasal dari banjir dan longsor.

    "Khususnya di Indonesia sebagai negara dengan tingkat kebencanaan cukup tinggi, maka sudah sepatutnya berbagai gedung penting atau proyek-proyek strategis dikover oleh asuransi secara menyeluruh," pungkasnya.

    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id