Kebutuhan Valas Korporasi Melonjak, Rupiah Terkapar

    Husen Miftahudin - 31 Maret 2021 16:17 WIB
    Kebutuhan Valas Korporasi Melonjak, Rupiah Terkapar
    Ilustrasi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS - - Foto: Antara/ Aprillio Akbar



    Jakarta: Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali terkikis akibat tingginya permintaan valuta asing (valas) korporasi. Melonjaknya kebutuhan valas korporasi merupakan faktor musiman, namun imbasnya, mata uang Garuda justru terkapar.

    "Jelang akhir kuartal, kebutuhan valas memang tinggi karena ada kewajiban pembayaran dividen, utang jatuh tempo, dan sebagainya. Rupiah jadi banyak dilepas untuk ditukar dengan valas, utamanya dolar AS," ungkap Ibrahim dalam keterangan tertulis yang diterima Medcom.id, Rabu, 31 Maret 2021.

    Lebih lanjut Ibrahim menjelaskan bahwa salah satu persoalan yang membayangi perekonomian pascapandemi covid-19 adalah gelontoran dana stimulus tak terbatas yang dilakukan AS. Dari USD1,9 triliun hingga USD3 triliun-USD4 triliun dalam rencana terbaru mereka.






    Kondisi tersebut menyebabkan ekonomi AS membaik lebih cepat dari ekspektasi para analis, dan berdampak terhadap naiknya inflasi serta imbal hasil (yield) obligasi AS dengan tenor 10 tahun. Sehingga, berpengaruh terhadap perekonomian negara-negara berkembang, salah satunya Indonesia.

    "Hal itu membuat dolar AS menguat terhadap mata uang utama, karena percepatan vaksinasi AS dan rencana paket stimulus yang memicu ekspektasi inflasi dan meningkatkan imbal hasil obligasi," paparnya.

    Di sisi data, Indeks Keyakinan Konsumen Conference Board melonjak menjadi 109,7 pada Maret, ini menjadi level tertinggi sejak awal covid-19. Investing.com memperkirakan angka 96,9, sedangkan indeks berada di 90,4 pada Februari.

    Investor saat ini tengah menunggu laporan ketenagakerjaan AS untuk bulan Maret, termasuk non-farm payrolls yang akan dirilis pada Jumat ini. Menurut Ibrahim, investor akan mengamati angka-angka tersebut dengan cermat setelah The Fed mengutip pasar tenaga kerja yang lesu karena sikap dovish-nya yang berkelanjutan pada suku bunga.

    "Dana Moneter Internasional juga akan menaikkan perkiraan pertumbuhan ekonomi global pada 2021 dan 2022 dari kontraksi 3,5 persen yang tercatat pada 2020," jelas dia.

    Dari sisi internal, Bank Indonesia (BI) sampai saat ini terus membantu dan mengendalikan gejolak mata uang rupiah akibat pandemi covid-19. Dengan strategi bauran ekonomi, diharapkan bisa mengendalikan gejolak pertumbuhan dan stagnasi ekonomi sehingga pertumbuhan ekonomi kembali membaik walaupun tidak seperti yang diharapkan.

    "Ini merupakan tantangan tersendiri bagi pemangku abdi negara agar bisa berpikir secara logis dan mencari solusi sehingga masalah pandemi covid-19 bisa terselesaikan dengan memvaksinasi keseluruhan masyarakat Indonesia," urai Ibrahim.

    Dia mengungkapkan bahwa pelaku pasar masih optimistis pandemi covid-19 akan terselesaikan. Apalagi vaksin untuk pencegahan sudah didistribusikan secara bertahap sehingga membuat masyarakat kembali tenang dan kembali beraktivitas seperti biasa. Walhasil, pertumbuhan ekonomi akan kembali berjalan.

    Adapun mengutip data Bloomberg pada penutupan perdagangan hari ini, nilai tukar rupiah terhadap USD melemah sebanyak 45 poin atau setara 0,31 persen ke posisi Rp14.525 per USD dari Rp14.480 per USD pada penutupan perdagangan di hari sebelumnya.

    Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah juga berada di zona merah pada posisi Rp14.520 per USD. Rupiah melemah sebanyak 77 poin atau setara 0,53 persen dari Rp14.443 per USD di penutupan perdagangan hari sebelumnya.

    Begitu pula dengan data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dolar Rate (Jisdor), rupiah diperdagangkan di level Rp14.572 per USD atau melemah 91 poin dari nilai tukar rupiah pada perdagangan hari sebelumnya sebesar Rp14.481 per USD.

    "Untuk perdagangan Kamis, mata uang rupiah kemungkinan dibuka berfluktuasi namun ditutup melemah di rentang Rp14.530 per USD hingga Rp14.590 per USD," pungkas Ibrahim.

    (Des)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id