Indikator Gerak Rupiah saat Pandemi Covid-19

    Suci Sedya Utami - 21 Maret 2020 17:52 WIB
    Indikator Gerak Rupiah saat Pandemi Covid-19
    Ilustrasi - - Foto: MI/ROMMY PUJIANTO
    Jakarta: Bank Indonesia (BI) mencatat perkembangan indikator stabilitas nilai tukar Rupiah secara periodik dalam sepekan terakhir. Hal ini guna mencermati kondisi perekonomian sebagai dampak dari penyebaran covid-19.

    Mengutip laporan indikator di laman resmi BI, Sabtu, 21 Maret 2020 disampaikan pada Kamis, 19 Maret 2020 rupiah ditutup melemah di level Rp15.900 per USD. Kemudian yield surat berharga negara (SBN) untuk tenor 10 tahun naik ke 7,95 persen.

    Indeks dolar (DXY) menguat ke level 102,76 serta yield UST Note 10 tahun naik ke level 1,140 persen. Sehari setelahnya pada Jumat, 20 Meret 2020, rupiah dibuka stabil di level Rp15.850. DXY menguat ke level 102,83.

    Sementara itu, aliran modal asing pada minggu ketiga Maret 2020 untuk premi currency default swap (CDS) Indonesia tenor lima tahun naik ke 251 basis poin per 19 Maret 2020 dari 172 basis poin per 13 Maret 2020.

    Berdasarkan data transaksi 16-19 Maret 2020, non residen di pasar keuangan domestik net jual Rp28,60 triliun dengan net jual di pasar SBN sebesar Rp26,94 triliun dan di pasar saham sebesar Rp1,66 triliun.

    Sedangkan berdasarkan data setelmen 16-19 Maret 2020, non residen di pasar keuangan domestik net jual Rp37,83 triliun. Selama 2020 ( year to date/ytd), non residen di pasar keuangan domestik tercatat net jual Rp105,14 triliun (termasuk data crossing saham), terutama dikontribusi dari pasar SBN.

    "Bank Indonesia terus memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah sesuai dengan fundamentalnya dan bekerjanya mekanisme pasar. Untuk itu, Bank Indonesia terus meningkatkan intensitas stabilisasi di pasar DNDF (Domestic Non Deliverable Forward), pasar spot, dan pembelian SBN dari pasar sekunder," bunyi laporan indikator tersebut.

    Adapun inflasi berdasarkan survei pemantauan pada minggu ketiga Maret 2020 diperkirakan sebesar 0,1 persen (month to month/mtm), lebih rendag dari sebelumnya. Sehingga secara tahun kalender sebesar 0,78% (ytd), dan secara tahunan sebesar 2,98% (year on year/yoy).

    Penyumbang inflasi pada periode laporan antara lain berasal dari komoditas emas perhiasan (0,05 persen), jeruk (0,03 persen), telur ayam ras (0,03 persen), gula pasir (0,02 persen), bawang merah, kangkung, bayam, nasi dengan lauk dan bahan bakar rumah tangga masing-masing sebesar 0,01 persen mtm.

    Untuk komoditas utama yang menyumbang deflasi yaitu cabai merah (-0,08 persen), cabai rawit (-0,03 persen), bawang putih, tomat, daging ayam ras, minyak goreng dan angkutan udara masing-masing sebesar -0,01 persen mtm.

    Sejumlah komoditas yang mengalami kenaikan harga dari minggu sebelumnya antara lain jeruk dan bawang merah. Sementara komoditas yang mengalami penurunan harga adalah cabai merah.

    "Bank Indonesia juga terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan OJK untuk memonitor secara cermat dinamika penyebaran covid-19 dan dampaknya terhadap perekonomian Indonesia dari waktu ke waktu, serta langkah-langkah koordinasi kebijakan lanjutan yang perlu ditempuh untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, serta menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap baik dan berdaya tahan," tegas laporan tersebut.



    (Des)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id