Topang Ekonomi, BI Minta Perbankan Turunkan Suku Bunga

    Husen Miftahudin - 20 Maret 2020 19:38 WIB
    Topang Ekonomi, BI Minta Perbankan Turunkan Suku Bunga
    Ilustrasi Bank Indonesia - - Foto: MI/ Rommy Pujianto
    Jakarta: Bank Indonesia (BI) meminta industri perbankan menyesuaikan penurunan suku bunga acuan. Dari awal tahun, Bank Indonesia sudah dua kali menurunkan suku bunga acuannya, dari lima persen menjadi 4,50 persen.

    Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan penurunan suku bunga acuan itu dimaksudkan untuk menopang perekonomian domestik di tengah tantangan ekstrem virus korona atau covid-19. Sehingga, pelaku usaha dalam negeri bisa terus memperpanjang usia usahanya lantaran bunga kredit perbankan yang ringan.

    Namun, industri perbankan acapkali 'bandel'. Mereka tidak langsung menyesuaikan bunga kreditnya meski bank sentral telah melonggarkan kebijakan moneter. Ternyata, bank-bank lagi sibuk berebut likuiditas demi menjaga rasio kredit terhadap dana pihak ketiga (DPK) atau Loan to Deposit Ratio (LDR).

    "Kepada Bapak Ketua OJK (Otoritas Jasa Keuangan), kami mendorong dan meminta kalangan perbankan untuk menurunkan suku bunga kredit agar bisa mendorong perkonomian lebih lanjut," pinta Perry kepada Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso dalam telekonferensi di Jakarta, Jumat, 20 Maret 2020.

    Perry mengakui dampak ekonomi terhadap merebaknya virus korona di Indonesia begitu dahsyat. Bila berlangsung lama, pandemi ini akan terus menggerogoti sendi-sendi ekonomi mikro dalam negeri, dan berdampak serius terhadap pertumbuhan ekonomi secara makro.

    Bahkan Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani menyebut ekonomi Indonesia hanya tumbuh 2,5 persen, atau bisa lebih parah menjadi nol persen bila wabah covid-19 ini berlangsung selama enam bulan. Sebab hampir seluruh motor perekonomian terdampak, seperti perdagangan, pariwisata, hingga penerbangan.

    Di sisi lain, Bank Indonesia bersama OJK terus melakukan upaya agar perbankan bisa memberikan pembiayaan kepada sektor korporasi dan usaha mikro kecil menengah (UMKM). Dalam hal ini, bank sentral melonggarkan kebijakan makroprudensialnya.

    "Termasuk mengarahkan penurunan GWM (Giro Wajib Minimum) agar perbankan terus melakukan pembiayaan di ekspor impor dan juga pembiayaan UMKM. Kami kemudian mendorong langkah pelonggaran di kebijakan makroprudensial yang lain," pungkas Perry.



    (Des)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id