Genjot Aksi Korporasi, Strategi Saratoga Dorong Pertumbuhan Bisnis Investasi

    Ade Hapsari Lestarini - 16 April 2021 14:01 WIB
    Genjot Aksi Korporasi, Strategi Saratoga Dorong Pertumbuhan Bisnis Investasi
    Foto: Grafis Medcom.id



    Jakarta: PT Saratoga Investama Tbk (SRTG) agresif menjalankan sejumlah aksi korporasi. Setelah berencana melakukan buyback saham senilai Rp150 miliar dan stock split saham dengan rasio pemecahan saham 1 banding 5 (1:5), perseroan kembali meningkatkan kepemilikan sahamnya sebanyak 4,34 persen di PT Mitra Pinastika Mustika Tbk (MPMX).

    Buyback saham Saratoga dilakukan sebanyak-banyaknya 0,92 persen saham dari modal disetor atau maksimum hingga 25 juta lembar saham akan dilaksanakan setelah memperoleh persetujuan RUPSLB pada 28 April 2021 sampai Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) selanjutnya yang akan diadakan paling lambat 30 Juni 2022.






    Berbagai aksi korporasi ini merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk terus mendorong pertumbuhan bisnis perusahaan investasinya. Apalagi di tengah pandemi covid 19 yang masih terjadi saat ini, banyak peluang yang masih dapat dioptimalkan oleh Saratoga. Strategi Saratoga fokus berinvestasi pada perusahaan early-stage, growth-stage, dan special situation opportunities.

    Analis pasar modal dari Finvesol Consulting, Fendi Susiyanto, memandang berbagai aksi korporasi yang dilakukan perseroan berpotensi besar menciptakan nilai tambah (creating value added) dan menjadikan prospek investasi di saham ini akan semakin menarik. Apalagi secara fundamental harga saham berkode SRTG ini masih tergolong undervalued atau di bawah harga wajarnya.

    Strategi Saratoga yang fokus pada perusahaan yang sedang bertumbuh (growth-stage) atau mengawali pertumbuhan (early stage) pada tiga sektor utama yang prospektif dengan target Internal rate of return (IRR) di atas 20 persen per tahun, merupakan strategi yang baik untuk meningkatkan nilai perusahaan secara cepat dan sustain.

    "Tiga sektor investasi yang dipilih Saratoga merupakan kunci pertumbuhan ekonomi Indonesia, yaitu sektor natural resources, infastruktur, dan consumer goods. Recovery ekonomi pascapandemi akan memberikan momentum penguatan bisnis lebih cepat pada perusahaan-perusahaan investasi Saratoga," jelas Fendi, Jumat, 16 April 2021.

    Berkat diversifikasi investasi di tiga sektor strategis tersebut, meski tahun lalu ekonomi Indonesia mengalami kontraksi, bahkan resesi, Saratoga justru meraih kenaikan laba bersih sebesar 20 persen menjadi Rp8,82 triliun. Nilai aset bersih (net asset value/NAV) perseroan di akhir tahun lalu melesat 39 persen hingga senilai Rp31,70 triliun.

    Fendi menilai sebagai perusahaan investasi Saratoga memiliki portofolio investasi yang dominan disegmen pasarnya. Misalnya PT Adaro Energy Tbk (ADRO) dan PT Tower Bersama Infrastruktur Tbk (TBIG) yang sudah memasuki perusahaan matang. Saratoga juga memiliki investasi di perusahaan yang masih dalam fase pertumbuhan seperti PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) dan PT Mitra Pinasthika Mustika Tbk. (MPMX).

    Kinerja investasi Saratoga

    Sepanjang 2020 nilai investasi Saratoga di MDKA naik 120 persen menjadi Rp10,18 triliun dan nilai investasi di TBIG tumbuh 56 persen menjadi Rp12,64 triliun.

    Tahun lalu Saratoga membukukan pendapatan dividen sebesar Rp750 milliar, yang sebagian besar dikontribusikan oleh ADRO sebesar Rp215 miliar, TBIG Rp214 miliar, MPMX sebesar Rp210 miliar, dan PT Provident Agro Tbk (PALM) sebesar Rp105 miliar.

    Direktur Investasi Saratoga Devin Wirawan menjelaskan, selama pandemi sejumlah perusahaan portofolio Saratoga menemukan momentum pertumbuhan bisnisnya. Ia menyebut kinerja MDKA terus menguat berkat kenaikan harga komoditas emas dan tembaga yang sangat tinggi di 2020.

    Selain itu, kata Devin, migrasi masyarakat yang semakin cepat ke ekosistem digital telah memberikan peluang yang semakin besar kepada TBIG sebagai penyedia infrastruktur telekomunikasi.

    Di sektor konsumer, Saratoga berinvestasi di PT Famon Awal Bros Sedaya (Primaya Hospital). Grup Primaya Hospital ini terus memperluas jaringannya untuk mendukung upaya pemerintah memberikan fasilitas kesehatan terbaik dan terjangkau, termasuk dalam penanggulangan covid-19.

    Menurut Fendi, secara teknikal saham SRTG sedang berkonsolidasi dalam pola symmetrical triangle, pascakenaikan yang signifikan dari harga sebelumnya Rp3.500 ke harga Rp6.250. Pola konsolidasi yang sedang terjadi dengan tren penguatan besar yang terlihat dari tiga garis moving average periode jangka pendek hingga panjang yang uptrend, menunjukkan ada peluang besar harga naik hingga mencapai level Rp8.700 hingga Rp9.600 sebagai target harga penguatan secara teknikal.

    Fendi menambahkan, secara fundamental, SRTG yang memiliki NAV sekitar Rp32,6 triliun, dengan metode valuasi diskon holding sebesar 25 persen, maka nilai wajar SRTG sebesar Rp24,45 triliun.

    Jika dibandingkan dengan market capitalization SRTG saat ini sebesar Rp15,73 triliun (di harga saham Rp5.800), maka harga saham SRTG masih mencerminkan potensi kenaikan sebesar 55,4 persen ke harga wajarnya untuk mencapai intrinsic value sebesar Rp9.015 per saham.

    "Secara umum, harga saham SRTG undervalued dan sangat atraktif untuk tujuan trading maupun investasi jangka panjang. Rencana buyback menunjukkan keyakinan manajemen SRTG untuk melakukan reinvestasi pada dirinya sendiri karena dipandang masih undervalued, dan stock split juga akan membuat secara psikologis saham SRTG menarik bagi trader maupun investor karena harga saham akan dipecah menjadi lebih kecil nominalnya sehingga lebih likuid," tambah Fendi.

    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id