Revisi Lagi, BI Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi 2021 Jadi 4,1%

    Husen Miftahudin - 20 April 2021 16:58 WIB
    Revisi Lagi, BI Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi 2021 Jadi 4,1%
    Ilustrasi. Foto: Medcom.id



    Jakarta: Bank Indonesia (BI) kembali memangkas proyeksi ekonomi RI untuk keseluruhan 2021 menjadi sebesar 4,1 persen hingga 5,1 persen. Revisi proyeksi ini merupakan yang kedua kali dilakukan bank sentral di 2021.

    Pada awalnya, Bank Indonesia 'pede' mematok pertumbuhan ekonomi nasional di sepanjang 2021 tumbuh di kisaran 4,8 persen sampai 5,8 persen. Namun pada Februari 2021, bank sentral memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi menjadi di kisaran 4,3 persen hingga 5,3 persen.






    "Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia secara keseluruhan tahun 2021 akan berada pada kisaran 4,1 persen hingga 5,1 persen," ungkap Gubernur BI Perry Warjiyo dalam Pengumuman Hasil RDG Bulanan BI secara virtual, Selasa, 20 April 2021.

    Perry menjelaskan bahwa salah satu faktor yang membuat prediksi pertumbuhan ekonomi tersebut turun lantaran perbaikan konsumsi swasta yang tercermin pada indikator ekspektasi konsumen dan penjualan eceran per Maret 2021 cenderung lebih terbatas.

    Menurutnya, turunnya konsumsi swasta ini sejalan dengan masih terbatasnya mobilitas masyarakat di tengah upaya pemerintah yang terus melakukan akselerasi program vaksinasi nasional.

    Meskipun demikian, tegas Perry, perbaikan ekonomi domestik masih terus berlangsung didukung oleh perbaikan kinerja ekspor, berlanjutnya stimulus fiskal, dan perbaikan investasi sebagaimana tercermin pada PMI manufaktur yang terus meningkat. Paling menopang adalah dukungan peningkatan kinerja ekspor dan belanja fiskal.

    Kinerja ekspor diprakirakan terus membaik, lebih tinggi dari proyeksi awal tahun. Perbaikan kinerja ekspor ini terutama didorong oleh komoditas Crude Palm Oil (CPO), bijih logam, pulp and waste paper, serta kendaraan bermotor dan besi baja.

    "Peningkatan ekspor tersebut ditopang oleh kenaikan permintaan dari negara mitra dagang utama, khususnya Tiongkok," urai dia.

    Di sisi lain, Perry menjelaskan bahwa pemulihan ekonomi juga akan didorong oleh stimulus fiskal pemerintah dalam bentuk bantuan sosial, belanja barang dan belanja modal yang lebih tinggi dari perkiraan. Sehingga, bersama dengan kinerja ekspor yang lebih baik menopang perbaikan ekonomi domestik.

    "Implementasi vaksinasi dan disiplin dalam penerapan protokol covid-19 tetap diperlukan untuk mendukung percepatan perbaikan permintaan domestik," tutup Perry.
     

    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id