Pekan Ini, Gerak Rupiah Masih Fluktuatif

    Angga Bratadharma - 17 April 2021 11:01 WIB
    Pekan Ini, Gerak Rupiah Masih Fluktuatif
    Ilustrasi. FOTO: MI/SUSANTO



    Jakarta: Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan di sepanjang pekan ini terlihat berfluktuatif tetapi mampu mengakhiri pekan di zona hijau. Lonjakan imbal hasil obligasi Pemerintah AS masih menjadi ancaman karena membuat mata uang Paman Sam kian perkasa.

    Mengutip laman Jisdor Bank Indonesia, Sabtu, 17 April 2021, nilai tukar rupiah pada awal pekan atau tepatnya Senin, 12 April berada di level Rp14.631 per USD. Lalu pada Selasa, 13 April 2021, mata uang Garuda tertekan ke posisi Rp14.648 per USD. Kemudian pada Rabu, 14 April, nilai tukar rupiah menguat ke posisi Rp14.633 per USD.






    Sedangkan pada Kamis, 15 April 2021, mata uang Garuda tertekan ke posisi Rp14.646 per USD. Lalu di akhir pekan atau tepatnya Jumat, 16 April 2021, nilai tukar rupiah mampu menguat ke posisi Rp14.592 per USD. Sejauh ini, mata uang Paman Sam sulit dikalahkan dan membuat mata uang Garuda belum mampu kembali ke level Rp13 ribu per USD.

    Sementara itu, dolar AS tergelincir ke terendah empat minggu terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu WIB). Dolar terseret penurunan tajam imbal hasil obligasi Pemerintah AS di sesi sebelumnya, saat investor semakin yakin Federal Reserve akan mempertahankan sikap kebijakan akomodatif untuk waktu yang lebih lama.

    Imbal hasil obligasi Pemerintah AS 10-tahun turun ke level terendah satu bulan di 1,528 persen semalam, bergerak lebih jauh dari tertinggi lebih dari setahun 1,776 persen pada Maret, bahkan saat menghadapi penjualan ritel dan data pekerjaan yang lebih kuat dari perkiraan pada Kamis.

    Pada Jumat, 16 April, imbal hasil obligasi Pemerintah AS 10-tahun memulihkan beberapa penurunannya menjadi diperdagangkan pada 1,5675 persen. “Tentu saja ada sedikit perubahan,” kata Minh Trang, pedagang senior valas di Silicon Valley Bank.

    Trang mengutip beberapa aksi ambil untung setelah apresiasi tajam greenback pada Maret serta penurunan imbal hasil obligasi pemerintah baru-baru ini sebagai alasan utama melemahnya dolar. "Selera investor yang meningkat terhadap aset-aset berisiko seperti ekuitas, juga telah melemahkan beberapa permintaan safe-haven yang biasanya dinikmati dolar," kata Trang.

    Beberapa pelaku pasar memperkirakan pelemahan dolar akan terus berlanjut. "Tebakan terbaik saya obligasi pemerintah 10-tahun tidak akan banyak bergerak dari sini selama kuartal mendatang dan itu menjadi latar belakang dinamika baru-baru ini yang telah kita lihat, dengan pelemahan dolar terus berlanjut pada kuartal ini," kata Ekonom Senior Mizuho Colin Asher.

    Indeks dolar yang mengukur greenback terhadap sekeranjang enam mata uang saingannya turun 0,111 persen menjadi 91,561, terendah sejak 18 Maret. Untuk minggu ini indeks turun 0,7 persen, menetapkan penurunan mingguan kedua berturut-turut.

    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id