Merger Bank di Tahun Ini Bakal Lebih Semarak

    Husen Miftahudin - 26 Januari 2021 17:52 WIB
    Merger Bank di Tahun Ini Bakal Lebih Semarak
    OJK. Foto : Mi/Ramdani.
    Jakarta: Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso optimistis penggabungan (merger) bank di tahun ini bakal lebih banyak dibandingkan tahun lalu yang hanya dilakukan oleh empat bank. Terkait ini, OJK akan mempercepat proses digitalisasi dan konsolidasi di industri jasa keuangan.

    "Itu adalah program bagaimana (industri jasa keuangan lebih) kompetitif ke depan. Digitalisasi kita lakukan, konsolidasi akan kita percepat, karena program modal ini sudah lama kita inisiasi, tinggal bagaimana ini kita lakukan," ujar Wimboh dalam sebuah webinar yang bertajuk Akselerasi Pemulihan Ekonomi, Selasa, 26 Januari 2021.

    Wimboh menjelaskan OJK mengeluarkan program modal inti minimum bank sebesar Rp3 triliun pada 2022. Dengan ini, konsolidasi perbankan yang diniatkan otoritas akan terjadi lebih cepat lagi karena tidak sedikit bank yang modalnya masih di bawah batas angka tersebut.

    OJK pun membuka ruang diskusi bagi pemilik bank jika mengalami kendala dalam penyetoran modal maupun peningkatan modal. Langkah tersebut diharapkan dapat membantu para pemilik bank untuk lebih cepat mengimplementasikan program modal inti minimum bank Rp3 triliun.

    "Ini sudah kita lakukan preemptive sehingga trennya akan menjadi banyak banyak lagi bank-bank yang melakukan akuisisi maupun merger dan sebagainya. Ini bagus, artinya kita preemptive sebelum menjadi permasalahan sehingga kita bisa lebih dini untuk mencegah itu," tegas Wimboh.

    Dia bilang, pemenuhan modal inti minimum Rp3 triliun dapat dilakukan secara bertahap, yakni Rp1 triliun pada akhir 2020 dan Rp2 triliun pada tahun ini. Oleh karena itu Wimboh meminta para perbankan untuk segera membuat rencana akuisisi dan konsolidasi.

    "Apabila memang plan-nya enggak bisa, kita preemptive untuk mengundang investor, mencari partner, dan sebagainya. Ini sudah dilakukan dengan baik, sehingga tidak ada yang mengalami kesulitan tentang hal ini," tegasnya.

    Menurut dia, proses preemptive pemenuhan permodalan ini merupakan proses dinamis dan harus dilakukan. Pasalnya kompetisi akan menjadi semakin berat, apalagi dengan adanya kehadiran dan pemanfaatan teknologi di industri perbankan.

    "Sehingga meskipun secara capital (permodalan) memenuhi, tapi dalam konteks kompetisi ekonomi skill belum tentu bisa kompetitif karena sekarang sudah zamannya teknologi," urai dia.

    Wimboh menceritakan apabila ada perbankan yang tidak memiliki produk kompetitif berbasis teknologi, maka nasabah perbankan tersebut akan kurang nyaman. Sebab saat ini layanan perbankan menjunjung tinggi kemudahan konsumen dalam bertransaksi.

    "Konsumen tidak perlu datang ke bank, semua berbasis gadget. Apabila sekarang ada bank enggak berbasis gadget produknya, ya pasti ditinggal nasabah. Apalagi di masa pandemi ini," pungkas Wimboh.


    (SAW)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id