BI: Pengguna Seluler Capai 388 Juta, Bukti Fondasi Digital RI Kuat

    Husen Miftahudin - 21 Oktober 2020 14:04 WIB
    BI: Pengguna Seluler Capai 388 Juta, Bukti Fondasi Digital RI Kuat
    Ilustrasi pengguna seluler - - Foto: dok Yamaha
    Jakarta: Principal Economist Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia (BI) Agung Purwoko menyebut fondasi digital RI sangat kuat. Hal ini tercermin dari tingginya penetrasi pengguna kartu seluler (mobile customer), pengguna internet (internet user), dan pengguna aktif sosial media (active social media users).

    "Indonesia itu memang memiliki fondasi digital yang sangat kuat, ini karena struktur demografinya dikuasai milenial. Penggunaan internetnya tinggi walaupun memang saat ini mostly (kebanyakan) dimanfaatkan oleh sosial media," ujar Agung dalam diskusi Institute for Development of Economics and Finance (Indef) secara virtual di Jakarta, Rabu, 21 Oktober 2020.

    Agung membeberkan hingga saat ini Indonesia memiliki sebanyak 338,2 juta pengguna seluler. Angka itu setara dengan 124 persen dari total 269 juta penduduk. Artinya, setiap penduduk Indonesia memiliki lebih dari satu kartu seluler.

    "Mobile customer-nya sangat tinggi karena ada 338 juta pengguna mobile, sementara penduduknya tidak sampai segitu. Jadi bayangan kita ada satu orang punya dua akun, dan ada banyak yang seperti itu. Di sinilah peluang digitalisasi Indonesia yang sangat kuat," tegasnya.

    Jumlah penetrasi pengguna seluler Indonesia bahkan lebih tinggi ketimbang India yang hanya sebesar 78 persen dari 1,35 miliar jumlah penduduk. Pun demikian dengan rata-rata dunia yang hanya sebesar 67 persen dari total 7,75 miliar penduduk dunia.

    Sementara tingkat penetrasi pengguna internet di Indonesia mencapai 64 persen atau setara 175,4 juta, jumlah ini juga lebih tinggi dari rata-rata dunia yang hanya 59 persen. Kemudian pengguna aktif sosial media sebanyak 59 persen atau setara 160 juta, juga lebih tinggi dari rata-rata dunia sebesar 49 persen.

    "Internet user dan active social media users Indonesia juga sangat tinggi. Kalau kita bandingkan dengan negara-negara lain, kita memang memiliki competitiveness (daya saing) yang memang cukup kuat," ungkap Agung.

    Terkait hal ini, bank sentral terus berupaya untuk meningkatkan instrumen dan sistem pembayaran digital. Hal ini penting dilakukan agar bisa mendukung pertumbuhan ekonomi di tengah meluasnya dampak pandemi covid-19.

    "Bank Indonesia terus mencari instrumen dan sistem pembayaran seperti apa yang paling efisien dalam mendukung pertumbuhan ekonomi dengan tetap memastikan bahwa keandalan dan keamanan dari payment sistem itu sendiri. Karena uang (transaksi) itu butuh trust (kepercayaan), jadi regulator harus bisa memastikan masyarakat trust terhadap sistem pembayaran yang ada," pungkas Agung


    (Des)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id