6 Cara Memilih Investasi Reksa Dana untuk Pemula

    Angga Bratadharma - 20 November 2020 10:04 WIB
    6 Cara Memilih Investasi Reksa Dana untuk Pemula
    Ilustrasi. FOTO: Medcom.id
    Jakarta: Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) tepat pada Agustus 2020 mencatat pertumbuhan jumlah investor di pasar modal Indonesia naik 21,66 persen menjadi 3,02 juta investor dari akhir 2019 hingga 30 Juli 2020. Investor reksa dana tercatat sebanyak 2,31 juta atau naik 30,50 persen ketimbang akhir 2019.

    Sebagai salah satu instrumen investasi reksa dana memang cukup direkomendasikan bagi para pemula karena dana para investor akan dikelola oleh Manajer Investasi (MI) yang berpengalaman. Menurut Undang-Undang Pasar Modal Nomor 8 Tahun 1995 reksa dana merupakan salah satu wadah yang digunakan masyarakat untuk menghimpun dana.

    Beberapa keuntungan yang bisa didapat lewat berinvestasi reksa dana adalah memiliki instrumen investasi yang terdiversifikasi otomatis, modal awal investasi yang kecil, bisa di-top-up dan dicairkan kapan saja, dan bebas pajak.

    Secara sederhana, masyarakat melakukan urunan dana dan setelah terkumpul dana tersebut dikelola sebagai bentuk investasi oleh manajer investasi ke dalam portofolio efek. Jika dilihat dari portofolio efeknya, reksa dana memiliki banyak jenis.

    Selain reksa dana pasar uang, ada pula reksa dana pendapatan tetap, reksa dana campuran, reksa dana saham, reksa dana terproteksi, reksa dana indeks, reksa dana dengan penjaminan, hingga Exchanged Traded Fund (ETF). Mengutip Lifepal, Jumat, 20 November 2020, berikut tips untuk memilih reksa dana untuk pemula.

    1. Kenali manajer investasi pengelola reksa dana dengan baik

    Prospektus dalam sebuah produk reksa dana berisikan banyak hal terkait strategi pengelolaan reksa dana, pembatasan investasi, hingga orang-orang di balik perusahaan manajer investasi tersebut. Mencari tahu soal rekam jejak manajer investasi adalah hal wajib yang harus dilakukan investor.

    Di era keterbukaan informasi seperti saat ini, sangat mudah untuk mengetahui apakah MI yang kita tuju pernah terlibat kasus, atau pelanggaran hukum lainnya. Ketahui pula jumlah dana kelolaan atau Asset Under Management (AUM) perusahaan manajer investasi tersebut. Besarnya AUM menandakan tingginya kepercayaan investor terhadap MI.

    2. Cari benchmark untuk mengukur performa reksa dana

    Data historis seputar imbal hasil sebuah reksa dana secara bulanan hingga tahunan tidak bisa dijadikan satu-satunya acuan untuk memilih produk reksa dana. Seseorang bisa melakukan perbandingan dengan menggunakan beberapa acuan atau benchmark.

    3. Perhatikan sharpe ratio

    Ketika seseorang memilih instrumen investasi yang memiliki volatilitas tinggi maka mereka juga mengharapkan imbal hasil yang tinggi. Sharpe ratio bisa digunakan untuk tingkat risiko dari reksa dana. Tidak ada patokan berapa sharpe ratio yang terbaik.

    Sharpe ratio merupakan rasio yang mengukur kinerja reksa dana dengan perbandingan imbal hasil dan risiko (standar deviasi). Makin tinggi sharpe ratio maka makin baik kinerja reksa dana tersebut. Jika menemukan nilai sharpe ratio negatif di produk reksa dana akan lebih baik untuk memilih reksa dana yang sharpe ratio negatifnya paling kecil.

    Sharpe ratio yang negatif menandakan tingkat risiko lebih besar dibanding dengan tingkat pengembalian. Ketika membeli reksa dana di platform milik agen penjual efek reksa dana atau perusahaan sekuritas, nilai rasio ini akan tertera di daftar reksa dana.

    4. Perhatikan nilai draw down

    Draw down bisa dimaknai sebagai tingkat kerugian maksimal yang ada di produk reksa dana, atau bisa juga didefinisikan sebagai tingkat penurunan kinerja dari titik puncaknya ke titik terendah. Apabila sebuah reksa dana memiliki nilai draw down sebesar 30 persen setahun, berarti kinerja reksa dana tersebut pernah mengalami penurunan sebesar 30 persen.

    Sama seperti sharpe ratio, nilai draw down juga bisa dipengaruhi oleh time frame. Draw down yang tinggi umumnya ditemukan di reksa dana campuran maupun saham. Untuk sebagian besar reksa dana pasar uang, nilai draw down ada di angka nol koma sekian. Bahkan tidak sedikit pula yang nilainya 0,00 persen.

    5. Waspadai expense ratio reksa dana

    Expense ratio bisa juga disebut sebagai perbandingan beban operasional reksa dana dengan rata-rata NAB dalam setahun. Pengelolaan sebuah reksa dana tentu akan memunculkan biaya. Biaya-biaya tersebut sebut saja, biaya kustodian, trading, marketing, dan lainnya. Semakin kecil expense ratio mencerminkan kehandalan Manajer Investasi dalam mengelola produknya.

    6. Pilih reksa dana sesuai dengan jangka waktu investasi Anda

    Semakin pendek jangka waktu investasi, maka pilihan reksa dana yang disarankan adalah reksa dana yang volatilitas nilai aktiva bersih (NAB)-nya rendah. Namun untuk jangka panjang, maka pilihan reksa dananya akan semakin fleksibel, boleh yang rendah volatilitasnya atau yang tinggi karena mengharap imbal hasil yang besar.

    Untuk jangka waktu pendek yakni 1-3 tahun sangat disarankan untuk memilih reksa dana yang rendah fluktuasi seperti reksa dana pasar uang, atau pendapatan tetap. Untuk jangka menengah yakni 3-5 tahun, disarankan memilih reksa dana pasar uang, pendapatan tetap dan campuran.

    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id